Kisah Soekarno dalam memoar Khamenei menguak ironi: di mana nyali pemimpin hari ini saat imperialisme baru menghancurkan Gaza?


KOSONGSATU.ID – Di balik dinding dingin sel penjara Syah Reza Pahlavi, sejarah meretas batas ideologi. Dalam memoarnya yang bertajuk Cell No. 14, Sayyid Ali Khamenei membagikan sebuah fragmen ingatan yang ganjil namun membekas.

Ia menceritakan momen ketika dirinya menyuapi seorang tahanan sosialis yang ringkih. Dari bibir sang kawan sayap kiri itulah, sebuah nama terus menggemuruh sebagai simbol perlawanan global: Soekarno.

Buku Memoar karya Ayatollah Ali Khaemenei berjudul Cell No. 14. – AI Generate

​Bagi Khamenei muda, pertemuan itu membuka mata bahwa sosok Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut bukanlah sekadar penguasa lokal.

Soekarno adalah arsitek dekolonisasi global yang sukses meleburkan semangat nasionalisme ke dalam arena internasionalisme.

Poros Bandung dan Nyali Anti-Imperialisme

Soekarno tidak pernah memosisikan dirinya sebagai teknokrat yang duduk manis di belakang meja. Ia memanggungkan Indonesia sebagai mercusuar perlawanan.

Data sejarah mencatat, melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Soekarno berhasil mengumpulkan 29 negara yang mewakili lebih dari separuh, atau 54 persen, populasi dunia saat itu. Ia merangkul negara-negara Dunia Ketiga untuk menentang neo-kolonialisme dan imperialisme alias nekolim.

​Keberanian Soekarno menembus batas-batas blok Perang Dingin. Melalui pidato monumentalnya di PBB tahun 1960, To Build the World Anew, ia menggugat tatanan dunia yang timpang.

Bersama Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, dan Josip Broz Tito, ia membidani lahirnya Gerakan Non-Blok (GNB) pada 1961. Gerakan ini menawarkan “jalan ketiga” yang tegap dan berharga diri, menolak menjadikan negara berkembang sebagai pion catur negara adidaya.

​Khamenei menangkap esensi ini. Dalam memoarnya, ia tidak menggunakan dalil agama untuk berdebat dengan rekan satu selnya. Ia justru meminjam Semangat Bandung 1955. Mereka menemukan kesamaan nasib (shared destiny) di bawah tumit sepatu lars imperialisme—sebuah solidaritas yang melampaui perbedaan antara sajadah dan manifesto komunis.

Metamorfosis Imperialisme dan Tragedi Kemanusiaan

​Kini, mari kita membenturkan ingatan Khamenei tersebut dengan realitas hari ini. Dunia seolah kehilangan kompas moral. Imperialisme memang berganti baju; ia tidak lagi semata-mata datang menunggangi kapal meriam.

Hari ini, hegemonisme beroperasi melalui algoritma digital, jerat utang institusi finansial global, dan sanksi ekonomi sepihak yang mencekik nadi negara berkembang.

​Lebih mengerikan lagi, kita menyaksikan standar ganda yang dipertontonkan secara telanjang dalam tragedi Gaza.

Puluhan ribu nyawa warga sipil Palestina melayang, sementara Amerika Serikat dan sekutunya terus memveto resolusi gencatan senjata di Dewan Keamanan PBB. Mereka secara hipokrit mendefinisikan ulang istilah “hak membela diri” — right to self-defense — di atas puing-puing rumah sakit dan sekolah yang hancur oleh bom presisi.

​Ironi Sang “Macan Asia” di Era Teknokratis

Di tengah krisis eksistensial global ini, di mana suara kepemimpinan yang dulu digerakkan Soekarno?

Negara yang kerap mengklaim diri sebagai “Macan Asia” ini justru sering kali terjebak dalam kebisuan yang memalukan.

Sekadar menyuarakan kecaman keras atau belasungkawa pun, para pemimpin hari ini tampak ragu, terlalu sibuk menimbang kalkulasi untung-rugi investasi asing.

​Kepemimpinan global kini terjangkit virus retorika teknokratis yang mandul. Para elit berpidato fasih tentang hak asasi manusia di forum ekonomi berlapis emas, tetapi membiarkan mesin perang terus menderu memakan korban.

Kita sungguh merindukan keberanian Soekarno yang berani menghentak meja dan berteriak “Go to hell with your aid!” ketika kedaulatan politik dan martabat bangsa sedang dipertaruhkan.

Penutup: Menjaga Api Martabat

​Catatan Khamenei dari balik jeruji besi adalah sebuah teguran keras melintasi zaman. Solidaritas kemanusiaan seharusnya tidak menuntut syarat ideologis. Oleh karena itu, ketika Megawati Soekarnoputri—anak biologis sekaligus ideologis Soekarno—mengirimkan belasungkawa atas syahidnya Sang Rahbar, tindakan itu jauh melampaui basa-basi diplomatik.

Langkah tersebut adalah getaran kawat sejarah yang menyambungkan dua kutub perlawanan; sebuah penghormatan bagi mereka yang memilih berdiri tegak menantang badai sanksi dan ancaman.

​Selama ketidakadilan masih menjadi hidangan sehari-hari dalam tatanan global, nama Soekarno dan determinasi Khamenei akan terus bergema. Sejarah, pada akhirnya, tidak memihak mereka yang menang karena dominasi senjata atau veto.

Sejarah akan mencatat mereka yang menang karena merawat api martabat kemanusiaan agar tidak pernah padam.***


Daftar Rujukan:

  • Khamenei, Ali. (2023). Sel Nomor 14: Memoar Sayyid Ali Khamenei. Jakarta: Penerbit Noura.
  • ​Soekarno. (1964). Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I. Jakarta: Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi.
  • ​Kahin, George McTurnan. (1956). The Asian-African Conference: Bandung, Indonesia, April 1955. Ithaca: Cornell University Press.
  • ​United Nations. (1960). To Build the World Anew (Pidato Presiden Soekarno di Sidang Majelis Umum PBB ke-15). New York: UN Archives.
  • ​Laporan situasi terkini Timur Tengah dan hak asasi manusia global dari berbagai lembaga kemanusiaan (Amnesty International & Human Rights Watch, 2025-2026).