Sebuah Gagasan yang Terlalu Maju?
Saat Madilog diterbitkan tahun 1943, Indonesia bahkan belum proklamasi. Tan Malaka tahu bahwa buku ini tidak akan populer. Tapi ia menulis untuk masa depan. Sayangnya, nasibnya sendiri berakhir tragis. Ia dieksekusi oleh sesama anak bangsa, dua tahun sebelum Republik benar-benar berdiri kokoh.
Sepeninggalnya, nama Tan Malaka sempat hilang dari buku sejarah resmi. Madilog pun nyaris tak dikenal. Tapi zaman berubah. Di tengah era digital dan banjir informasi palsu hari ini, Madilog kembali relevan. Ia mengajak kita merenung: sudahkah bangsa ini benar-benar merdeka—dalam pikiran?
Menanti Revolusi Pikiran Kedua
Dalam sebuah zaman di mana hoaks mudah menyebar, di mana pendapat disamakan dengan fakta, warisan Tan Malaka seperti menggema kembali. Ia mungkin akan berkata, “Kita butuh Madilog lebih dari sebelumnya.”
Madilog bukan sekadar warisan intelektual. Ia adalah ajakan untuk berpikir lebih rasional, lebih manusiawi, dan lebih membumi. Sebuah revolusi yang tidak menumpahkan darah, tetapi mencerahkan akal.—bersambung
__Catatan Editor:
Tulisan ini merupakan bagian dari serial “Membaca Ulang Madilog” yang mengangkat pemikiran Tan Malaka sebagai warisan intelektual bangsa. Artikel disusun untuk keperluan edukatif dan memperluas ruang diskusi kritis di ruang publik.



Tinggalkan Balasan