BRIN mengintegrasikan teknologi penginderaan jauh resolusi tinggi dan kecerdasan artifisial guna memantau lahan pertanian secara seketika demi mengantisipasi krisis pangan.

KOSONGSATU.ID — Di tengah kepungan perubahan iklim global, degradasi kualitas tanah, masifnya alih fungsi lahan pertanian, serta lonjakan kebutuhan konsumsi, pemanfaatan teknologi modern mutlak menjadi jangkar penyelamat. Salah satu inovasi garda depan yang berperan amat strategis adalah teknologi penginderaan jauh (remote sensing).

Teknologi ini terbukti ampuh memantau kondisi riil lahan, mendeteksi pergeseran tutupan hijau, sekaligus memproyeksikan angka produksi pangan secara akurat. Langkah digital tersebut menjadi basis utama penyusunan kebijakan yang tepat sasaran bagi masa depan perut bumi nusantara.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dede Dirgahayu, menegaskan bahwa penginderaan jauh telah berevolusi menjadi instrumen utama dalam menghasilkan informasi spasial. Data dinamis ini berfungsi sebagai kompas bagi para pengambil keputusan di sektor pangan nasional.

BRIN mengembangkan metode klasifikasi berbasis citra satelit yang memungkinkan identifikasi jenis tanaman secara lebih presisi. Langkah ini dipaparkan dalam webinar BRIN talks about Geoinformatics Hot Topics (BRIGHTS) seri ketiga tahun 2026 bertajuk “Dari Citra Satelit ke Lumbung Pangan: Peran Geoinformatika dalam Kebijakan Kedaulatan Pangan Nasional” pada Selasa, 30 Juni 2026.

Menurut Dede, lompatan teknologi satelit dalam beberapa tahun terakhir ini melaju sangat pesat. Kehadiran resolusi spasial yang semakin tinggi membuat objek sekecil apa pun di permukaan bumi kini bisa teramati secara mendetail. Selain itu, peningkatan resolusi temporal memberikan kemampuan bagi satelit untuk merekam kondisi wilayah dengan frekuensi yang jauh lebih padat.

Ditambah lagi dengan perluasan kemampuan spektral, identifikasi karakteristik spesifik tanaman kini menjadi jauh lebih akurat berdasarkan respons spektralnya. Melalui kemajuan tersebut, pemantauan sektor agraris kini dapat berlangsung secara hampir seketika (real-time).

Berbagai variabel krusial—mulai dari jenis komoditas, luas areal tanam aktif, fase pertumbuhan, hingga indikasi awal gangguan akibat bencana kekeringan, banjir, maupun serangan organisme pengganggu tanaman—bisa terdeteksi jauh lebih cepat daripada mengandalkan metode survei konvensional di lapangan.

Menariknya, kecanggihan teknologi ini kian berlipat berkat integrasi Kecerdasan Artifisial (AI). Dede memaparkan bahwa AI mampu memangkas waktu analisis jutaan data citra satelit yang semula memakan waktu sangat lama jika diproses secara manual. “Dukungan AI mempercepat pengolahan data menjadi lebih akurat, sehingga sangat membantu pemetaan komoditas pangan strategis,” tuturnya menjelaskan.

Standardisasi Data Baku dan Skenario Rumit Negara Kepulauan

Selain mengejar kecepatan informasi, BRIN menempatkan kualitas dan validitas data sebagai prioritas utama. Citra satelit yang tertangkap wajib melewati serangkaian proses koreksi geometrik dan radiometrik yang ketat agar memiliki standardisasi baku yang valid sebelum digunakan oleh berbagai instansi eksternal.

Standardisasi data ini memegang peran krusial agar hasil analisis dapat diterapkan secara konsisten di berbagai wilayah tanpa menghasilkan deviasi yang lebar. Langkah fundamental tersebut menjadi fondasi kokoh dalam membangun program Satu Data Geospasial Nasional yang dapat dimanfaatkan secara lintas sektor.

Dalam memandang ketahanan pangan, Dede menguraikan tiga pilar utama yang saling mengunci: ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, dan pemanfaatan pangan. Ketiganya kini bisa dibedah secara komprehensif lewat pisau analisis data geospasial. Informasi mengenai luas lahan pertanian nyata, pola tanam musiman, proyeksi volume produksi, rantai distribusi, hingga kerentanan pangan wilayah dapat dipetakan secara mendetail hingga level kabupaten bahkan desa.

Kendati menawarkan solusi mutakhir, implementasi teknologi geoinformatika di tanah air masih membentur tantangan yang tidak ringan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia mengantongi karakteristik geografis yang jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan negara-negara kontinental seperti Tiongkok, Thailand, ataupun Amerika Serikat.

Rentang wilayah yang masif, ribuan pulau yang tersebar, topografi berbukit yang ekstrem, serta dominasi wilayah perairan menuntut sistem pemantauan yang jauh lebih adaptif, tangguh, dan disokong oleh infrastruktur data yang mumpuni. Oleh karena itu, BRIN menyadari sepenuhnya bahwa pengembangan teknologi penginderaan jauh tidak boleh berjalan secara parsial atau sektoral.

Indonesia membutuhkan sinergi yang erat dan berkelanjutan antara lembaga riset, kementerian teknis, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga komunitas petani lokal dalam membangun ekosistem geoinformatika nasional yang terintegrasi. Kolaborasi mutakhir antara penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG), AI, dan Data Raya (Big Data) akan membentuk fondasi kokoh menuju era pertanian presisi (precision agriculture) yang berbasis data ilmiah.

Integrasi teknologi penginderaan jauh, SIG, dan AI merupakan langkah krusial bagi masa depan agraris Indonesia. Lewat dukungan data spasial yang akurat, mutakhir, dan inklusif, Indonesia memiliki peluang emas untuk membangun sistem pangan yang tangguh, adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan nasional secara berkelanjutan.***