Apabila target itu diterapkan, sekitar 3,8 juta ton LNG per tahun berpotensi masuk ke pasar Indonesia. Sisanya, sekitar 5,7 juta ton, dapat dipasarkan ke luar negeri. Perhitungan tersebut masih berupa simulasi karena belum menjadi kesepakatan penjualan yang mengikat.
Minat calon pembeli terhadap LNG Masela disebut telah melampaui kapasitas produksi proyek. Permintaan nonmengikat datang dari Indonesia, Cina, Taiwan, negara Asia lainnya, serta sejumlah perusahaan energi Barat.
Karena itu, dampak Masela terhadap industrialisasi tidak hanya bergantung pada besarnya produksi. Harga gas untuk industri, identitas pembeli domestik, dan lokasi pengolahan gas juga akan menentukan nilai tambah yang bertahan di Indonesia.
Belum ada keputusan investasi final yang diumumkan untuk pembangunan industri turunan berskala besar di Kepulauan Tanimbar, seperti pabrik pupuk, petrokimia, metanol, atau amonia. Dengan demikian, posisi Masela sebagai pemasok energi nasional lebih jelas dibandingkan perannya sebagai pembentuk klaster industri baru di Maluku.
Produksi Ditargetkan Awal 2030-an
INPEX memegang 65 persen hak partisipasi dalam proyek tersebut. PT Pertamina Hulu Energi Masela menguasai 20 persen, sedangkan Petronas Masela Sdn. Bhd. memiliki 15 persen.
INPEX sebelumnya menargetkan keputusan investasi final pada 2027 dan produksi dimulai pada awal dekade 2030-an. Pemerintah meminta jadwal itu dipercepat agar gas dapat mulai diproduksi sebelum 2030, tetapi INPEX menyebut target tersebut sangat menantang.
Peletakan batu pertama pada 16 Juli 2026 menandai dimulainya pekerjaan awal dan pembangunan infrastruktur dasar. Tahap tersebut belum berarti seluruh kontrak konstruksi utama, keputusan investasi final, serta kontrak penjualan gas telah diselesaikan.
Prabowo mengatakan pemerintah ingin proyek itu memberikan manfaat bagi perekonomian nasional sekaligus masyarakat Maluku.
“Saya minta proyek ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, secepat-cepatnya, dan manfaatnya harus dirasakan oleh rakyat,” kata Prabowo.***




Tinggalkan Balasan