Pukulan Besar bagi Gaza dan Dunia Medis

Kepergian Marwan menjadi luka yang dalam, tak hanya bagi Gaza, tetapi juga bagi komunitas medis internasional. Healthcare Workers Watch (HWW) mencatat, ia adalah tenaga medis ke-70 yang gugur akibat serangan dalam kurun 50 hari terakhir.

“Pembunuhan Dr. Marwan Al-Sultan adalah tragedi besar. Ini bukan hanya hilangnya seorang dokter, tapi juga hilangnya puluhan tahun keahlian medis yang sangat dibutuhkan Gaza,” kata Muath Alser, Direktur HWW.

Rekan sejawatnya di RS Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Selmia, menambahkan bahwa Marwan adalah satu dari hanya dua ahli jantung yang tersisa di Gaza. “Ribuan pasien kini tak lagi memiliki harapan yang sama,” ucapnya lirih.

Ironi Serangan: Mengklaim Sasaran, Menghapus Kemanusiaan

Israel mengklaim bahwa serangan udara yang menewaskan Marwan menargetkan “tokoh kunci Hamas.” Namun dampaknya nyata dan memilukan: seorang dokter, istri, dan anak-anaknya terbunuh di kamar rumah mereka. Putri Marwan, Lubna, bersaksi kepada Associated Press: “Hanya kamar ayah saya yang hancur. Yang lain utuh.”

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut kematian Marwan sebagai kejahatan keji terhadap tenaga medis. Mereka mencatat lebih dari 1.400 tenaga kesehatan telah tewas selama agresi militer berlangsung—dokter, perawat, teknisi, hingga relawan.

Selamat Jalan, Sang Dokter Kemanusiaan

Di antara puing-puing dan darah yang belum mengering, nama Marwan Al-Sultan akan terus dikenang. Ia bukan hanya dokter. Ia adalah pelayan kemanusiaan sejati. Seorang pria yang tak pernah meninggalkan posnya, bahkan ketika kematian mengetuk pintu rumahnya sendiri.

Gaza berduka. Dunia seharusnya tersentak. Dan sejarah tak akan lupa: bahwa di tengah perang yang kejam, pernah ada seorang dokter yang berdiri tegak, dengan tangan penuh kasih dan suara yang tak pernah gentar.

Selamat jalan, Dr. Marwan. Jas putihmu mungkin telah ternoda darah, tapi namamu tetap bersih di hati umat manusia.*