Penangkapan Nicolás Maduro pada awal Januari 2026 terasa seperti petir yang menyambar konflik lama—kilatnya singkat, tapi gaungnya membuka kembali sejarah panjang pertarungan kekuasaan antara Caracas dan Washington.


KOSONGSATU.ID—Washington menyebut penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai murni penegakan hukum atas dakwaan pidana berat, mulai dari kejahatan narkotika hingga aktivitas lintas negara. Caracas membalas dengan bahasa yang lebih keras: pelanggaran kedaulatan, intervensi terbuka, dan preseden berbahaya bagi tatanan internasional. Di antara dua klaim itu, dunia membaca lebih dari sekadar proses hukum. Peristiwa ini dipahami sebagai eskalasi tertinggi dari konflik politik yang telah mengendap selama lebih dari dua dekade.

Hubungan Amerika Serikat dan Venezuela memang tak pernah sepenuhnya pulih sejak awal abad ke-21. Penangkapan Maduro bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan klimaks dari relasi bilateral yang lama memburuk—relasi yang dibentuk oleh ideologi, minyak, sanksi, dan perebutan legitimasi kekuasaan.

Warisan Konfrontasi Era Hugo Chávez

Fondasi konflik ini ditanam pada 1999, ketika Hugo Chávez naik ke tampuk kekuasaan. Chávez membawa Revolusi Bolivarian: nasionalisme ekonomi, penguatan peran negara di sektor strategis—terutama minyak—serta politik luar negeri yang secara terbuka menantang dominasi Amerika Serikat di Amerika Latin. Sejak awal, Washington ditempatkan sebagai simbol imperialisme global, bukan sekadar mitra yang berbeda kepentingan.

Retorika itu berwujud kebijakan. Chávez mempererat aliansi dengan Kuba, Rusia, dan China, sembari menjauh dari orbit politik-ekonomi Amerika Serikat. Hubungan yang sebelumnya pragmatis berubah menjadi penuh kecurigaan. Titik baliknya terjadi pada April 2002, ketika Chávez sempat digulingkan selama hampir dua hari dalam sebuah kudeta singkat sebelum kembali berkuasa. Meski Amerika Serikat membantah keterlibatan langsung, peristiwa itu mengendap sebagai trauma politik di Caracas—bukti, bagi pemerintah Venezuela, bahwa ancaman eksternal nyata adanya.

Ketegangan itu mencapai panggung global pada 2006, ketika Chávez di Sidang Umum PBB menyebut Presiden AS saat itu, George W. Bush, sebagai “iblis”. Dua tahun berselang, Caracas mengusir duta besar Amerika Serikat. Sejak fase ini, sanksi dan tekanan politik menjadi bahasa utama Washington dalam menghadapi Venezuela.

Maduro, Pewaris dan Penjaga Revolusi

Dalam pusaran konflik tersebut, Chávez menyiapkan suksesi. Nicolás Maduro dibesarkan di lingkar kekuasaan Revolusi Bolivarian, mengabdi enam tahun sebagai menteri luar negeri sebelum diangkat menjadi wakil presiden. Pada Desember 2012, Chávez—yang tengah sakit keras—secara terbuka menunjuk Maduro sebagai penerus dan meminta rakyat memilihnya jika ia wafat.

Ketika Chávez meninggal pada Maret 2013, Maduro memenangkan pemilu dengan selisih tipis. Kemenangan itu segera dipersoalkan oposisi domestik dan sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Dari titik inilah konflik lama memasuki fase baru: bukan lagi Chávez versus Washington, melainkan Maduro yang memikul seluruh beban warisan politik pendahulunya.

Sanksi, Minyak, dan Politik Tekanan

Di bawah Maduro, strategi Amerika Serikat bergeser dari konfrontasi retoris ke tekanan sistemik. Pada 2015, Washington menetapkan Venezuela sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS—langkah hukum yang membuka jalan bagi rezim sanksi jangka panjang. Puncaknya datang pada 2019, ketika Amerika Serikat mengakui Juan Guaidósebagai presiden interim dan secara terbuka menolak legitimasi Maduro.

Pada tahun yang sama, sanksi dijatuhkan kepada PDVSA, perusahaan minyak negara yang menjadi tulang punggung ekonomi Venezuela. Sejak itu, minyak bukan lagi sekadar komoditas, melainkan medan tempur geopolitik. Bagi Washington, sanksi energi adalah alat tekan paling efektif. Bagi Caracas, langkah tersebut mengukuhkan keyakinan lama bahwa konflik dengan Amerika Serikat berakar pada perebutan kendali atas sumber daya strategis.

Dari Sejarah Panjang ke Peristiwa Januari 2026

Dalam konteks inilah penangkapan Maduro dipahami. Ia bukan sekadar operasi penegakan hukum, melainkan akumulasi konflik struktural yang berawal dari era Chávez dan diwariskan—nyaris tanpa jeda—kepada pemerintahan Maduro. Penangkapan ini menandai bab baru dari pertarungan dua narasi besar: narasi hukum dan keamanan versi Washington, berhadap-hadapan dengan narasi kedaulatan dan perlawanan versi Caracas.

Maduro, pada titik ini, tidak hanya diperlakukan sebagai individu yang berhadapan dengan dakwaan pidana. Ia menjelma simbol dari proyek politik yang sejak awal berdiri berseberangan dengan Amerika Serikat. Dan seperti setiap simbol dalam sejarah konflik panjang, nasibnya selalu lebih besar dari dirinya sendiri.***