Kembalinya Teater Topeng 97 dari masa vakum sejak 2015 membuktikan lebih dari sekadar hasrat kembali ke panggung kompetisi. Mereka berhasil membuktikan kemampuan meracik sebuah epos dengan kedalaman emosi yang serius. Kisah Keumalahayati di tangan mereka melampaui cerita kemenangan militer, menjelma menjadi narasi tentang perempuan-perempuan yang menolak dilupakan.
Tentu saja, masih ada beberapa catatan. Beberapa dialog yang meluncur cepat tanpa bobot emosi yang pas, dipadu kualitas vokal sejumlah pemain yang masih pas-pasan, membuat beberapa pesan penting gagal tersampaikan secara utuh. Beruntung, kekurangan elementer yang masih menghambat sebagian besar pemain ini berhasil tertutupi oleh tata cahaya memanjakan mata racikan Regul.
Di balik segala kelebihan dan kekurangannya, para aktor muda berbakat dari SMAN 97 ini patut mendapatkan apresiasi dua jempol. Mereka tampil solid, rapi jali, tangguh, kompak, dan yang tak bisa dipandang remeh: bernyali besar untuk menancapkan tajinya di atas panggung sejarah teater pelajar Indonesia. Manjura!***



Tinggalkan Balasan