Secara tradisi, musik Aceh banyak bertumpu pada perkusi tanpa nada tetap. Instrumen seperti rapai (rebana Aceh), geundrang, dan tambo lebih menonjolkan ritme serta teknik interlocking ketimbang melodi bertangga nada. Para pemain biasanya menabuh pola ritme terpisah yang sekilas terasa tidak lengkap. Namun, ketika digabungkan, pola-pola itu saling mengisi celah dan menyatu menjadi satu ritme utuh yang berkesinambungan.

Selain itu, seurune kalee (alat tiup ganda mirip serunai) sebagai instrumen melodis utama Aceh umumnya berbunyi dengan skala nada yang mendekati sistem maqam ala Timur Tengah. Begitu pula dengan rebana dan bansi (seruling bambu) yang lahir dari rahim tradisi Melayu-Islam. Sayangnya, karakter kental dari ketiga alat musik beserta model permainan khasnya tersebut sama sekali luput mewarnai pertunjukan dari awal hingga akhir.

Kekuatan Karakter dan Koreografi

Beruntung, celah di sektor musik berhasil ditambal oleh performa apik aktornya. Nafizah Kairaman menghidupkan tokoh Keumalahayati dengan ketenangan yang justru memancarkan aura lebih menakutkan daripada teriakan amarah. Ia tidak perlu berteriak untuk meyakinkan penonton; ia hanya diam, dan diamnya itu membuat penonton percaya. Sulit membayangkan bahwa gadis berperawakan ramping yang menguasai panggung tersebut masih duduk di bangku kelas XI SMA.

Cerita kemudian bergulir ke Istana Darud Donya. Di sana, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (Imam Bukhori) memertanyakan keputusannya sendiri saat mengizinkan dua ribu perempuan berlatih militer di Teluk Lamreh. Menariknya, dialog antara Sultan dan Keumalahayati tidak terbangun sebagai konflik kekuasaan, melainkan sebuah pengakuan bijak: pemimpin yang baik tahu kapan harus menyerahkan kepercayaan kepada orang yang lebih tepat.

Momen penobatan Keumalahayati sebagai laksamana pun menjadi titik transisi penting. Gerakan silat kolosal seluruh pasukan Inong Balee menutup adegan ini, menandai pergeseran nuansa panggung—dari ratapan duka personal menjelma menjadi perlawanan kolektif kaum perempuan Aceh yang menolak menyerah pada nestapa.