Kehadiran Cornelis de Houtman yang Fathoni mainkan dengan sangat enerjik, langsung mengubah atmosfer pelabuhan Aceh. Suasana yang semula riang berubah tegang hanya dalam hitungan menit. Adegan Cornelis menghina pedagang, menumpahkan lada, hingga mendorong jatuh seorang inong, tidak jatuh menjadi karikatur penjajah yang berlebihan. Sebaliknya, adegan ini menampilkan potret kesombongan yang terasa begitu familier dalam ingatan kita, dan justru karena itulah sukses mengoyak kenyamanan memori penonton.

Klimaks pertunjukan pecah saat duel geladak kapal pada adegan kelima, mempertemukan Keumalahayati langsung dengan Cornelis. Risty Amelia Putri dan Shasa Rahmadani merancang koreografi pertarungan antara rencong dan pedang Eropa ini dengan brilian. Mereka berhasil menyuguhkan benturan dua peradaban, bukan sekadar adu fisik semata. Setiap tebasan pedang Keumalahayati mengiringi rentetan dialog yang merapal nama Zainal Abidin serta seluruh perempuan yang “namanya tidak ada dalam prasasti siapa pun.”

Penutup Tanpa Euforia

Mendobrak ekspektasi penonton terhadap drama perang pada umumnya, kemenangan para Inong Balee di akhir cerita tidak berbalut sorak-sorai perayaan. Regu Inong Balee hanya berdiri diam menatap lautan yang selama ini mereka jaga. Pilihan artistik ini sangat konsisten dengan visi penyutradaraan: keberanian mereka tidak meletup dari semangat yang heroik, melainkan lahir dari ketiadaan pilihan selain berdiri tegak melawan. Setelahnya, mereka memekikkan seruan takbir berulang kali.

Pertunjukan berakhir dengan monolog Keumalahayati yang berjanji akan selalu “ada dalam setiap perempuan yang memilih berdiri,” berlanjut dengan narasi latar tentang wafatnya Sang Laksamana yang bersemayam di Bukit Lamreh. Panggung pun menutup tirainya dengan nada elegi alih-alih euforia kemenangan. Bagi penonton yang mayoritas remaja, dramaturgi ini sukses menjadi pelajaran sejarah yang bernas. Setidaknya, mereka pulang membawa ingatan baru tentang sosok perempuan tangguh nan perkasa—pahlawan yang hari kelahirannya tak pernah dirayakan, tetapi sangat pantas memantik semangat juang.

Dapur Produksi dan Pembuktian

Tim produksi yang cukup besar menyokong penuh kesuksesan pentas ini. Makkiyah Athaya Indrawan duduk di kursi sutradara di bawah supervisi HWN. Naskah lakon merupakan buah pena kolaborasi Khalisha Hardhianti Wijaya, Deva Destuti Anwar, HWN, dan Kai Rasa. Untuk urusan visual, Athera Meikha Firdaus, Zanisaz Azka, bersama Blitz Production merancang tata artistik, sementara Cissy Kirany Malik dan Rahma Nevitriyani menggarap tata busana serta rias para pemain.