“Aliran dana segar senilai Rp212 miliar ini ditujukan murni untuk ekspansi dan penguatan operasi,” ujar Wim dalam keterangan resmi di bursa, 19 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa transaksi material ini tunduk pada aturan OJK dan tidak membawa konsekuensi negatif bagi kelangsungan bisnis. “Operasional harian, status hukum, dan keuangan perusahaan tetap solid tanpa gangguan,” tambahnya.

Defisit Akumulasi Masih Rp3,66 Triliun

Di balik lonjakan laba, struktur neraca CNKO masih dalam kondisi kritis. Laporan keuangan mencatat defisit akumulasi perseroan mencapai Rp3,66 triliun. Akibatnya, perusahaan mengalami defisiensi modal lebih dari Rp1 triliun.

Kondisi ini menyebabkan saham CNKO masih terkurung di papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia. Manajemen dituntut menjalankan restrukturisasi modal radikal untuk menghapus sejarah kelam defisit neraca keuangan.

Investor diimbau tetap waspada karena laba ratusan miliar belum mampu menghapus sisa defisit akumulasi yang nilainya fantastis. Kinerja fundamental yang membaik perlu dibarengi perbaikan struktur permodalan agar saham bisa keluar dari papan pemantauan khusus.***