PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) catat laba bersih Rp194 miliar di 2025, melonjak 166% dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan naik jadi Rp1,86 triliun, namun defisit akumulasi masih menggunung Rp3,66 triliun.


KOSONGSATU.ID—Emiten berkode saham CNKO ini membukukan laba bersih sebesar Rp194 miliar sepanjang 2025. Angka tersebut melesat 166 persen dibanding realisasi 2024 yang hanya Rp73 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan meningkat ke level Rp1,86 triliun. Manajemen juga berhasil menekan beban pokok pada kisaran Rp1,48 triliun, sehingga margin keuntungan terdongkrak signifikan.

Kinerja apik itu mendorong laba per saham dasar (EPS) perseroan naik pesat menjadi Rp21 per lembar. Pada perdagangan Jumat (6/3/2026), saham CNKO ditutup menguat 9,84 persen ke level Rp67, menyentuh batas auto rejection atas.

Dukungan Modal untuk Anak Usaha

Corporate Secretary CNKO, Wim Andrian, menjelaskan bahwa kebangkitan operasi tak lepas dari keputusan manajemen mendukung penuh kinerja anak usaha. Pada pertengahan Februari lalu, perseroan menuntaskan injeksi modal ke PT Sekti Rahayu Indah.

“Aliran dana segar senilai Rp212 miliar ini ditujukan murni untuk ekspansi dan penguatan operasi,” ujar Wim dalam keterangan resmi di bursa, 19 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa transaksi material ini tunduk pada aturan OJK dan tidak membawa konsekuensi negatif bagi kelangsungan bisnis. “Operasional harian, status hukum, dan keuangan perusahaan tetap solid tanpa gangguan,” tambahnya.

Defisit Akumulasi Masih Rp3,66 Triliun

Di balik lonjakan laba, struktur neraca CNKO masih dalam kondisi kritis. Laporan keuangan mencatat defisit akumulasi perseroan mencapai Rp3,66 triliun. Akibatnya, perusahaan mengalami defisiensi modal lebih dari Rp1 triliun.

Kondisi ini menyebabkan saham CNKO masih terkurung di papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia. Manajemen dituntut menjalankan restrukturisasi modal radikal untuk menghapus sejarah kelam defisit neraca keuangan.

Investor diimbau tetap waspada karena laba ratusan miliar belum mampu menghapus sisa defisit akumulasi yang nilainya fantastis. Kinerja fundamental yang membaik perlu dibarengi perbaikan struktur permodalan agar saham bisa keluar dari papan pemantauan khusus.***