AS menghancurkan fasilitas desalinasi air tawar di Pulau Qeshm, Iran, memutus pasokan 30 desa. IRGC langsung membalas dengan rudal presisi ke pangkalan militer AS di Juffair, Bahrain.
KOSONGSATU.ID—Amerika Serikat melancarkan serangan rudal dari pangkalan militer di Juffair, Bahrain, pada Jumat (6/3/2026) yang menghancurkan fasilitas desalinasi air tawar di Pulau Qeshm, Iran selatan. Akibatnya, pasokan air bersih untuk sedikitnya 30 desa terputus seketika .
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui akun media sosial X mengecam keras tindakan tersebut. Ia menyebut serangan itu sebagai “kejahatan yang terang-terangan dan nekat” yang akan membawa konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan.
“Menyerang infrastruktur sipil seperti fasilitas desalinasi air tawar adalah langkah berbahaya. AS yang memulai preseden ini, bukan Iran,” tegas Araghchi, dikutip dari Brisbane Times.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut mengomentari keterlibatan pangkalan udara di negara tetangga sebagai titik peluncuran agresi. “Kejahatan ini akan menerima respons yang setimpal,” ujarnya .
IRGC Balas dengan Rudal Presisi ke Bahrain
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bergerak cepat melancarkan serangan balasan pada Sabtu (7/3/2026). Pasukan Teheran menjadikan pangkalan militer AS di Juffair, Bahrain, sebagai sasaran utama rudal-rudal berpemandu presisi mereka.
Juru bicara Markas Pusat Khatam Al Anbiya, Letkol Ebrahim Zolfaqari, mengonfirmasi bahwa serangan dilakukan sebagai respons langsung atas agresi dari pangkalan yang sama. “Pangkalan Amerika itu segera dihantam oleh IRGC menggunakan rudal berpemandu presisi berbahan bakar padat,” jelasnya.
IRGC memadukan rudal berbahan bakar padat dan cair generasi baru, termasuk Khorramshahr-4, Kheibar, dan Fattah, untuk memastikan daya hancur maksimal . Serangan ini merupakan gelombang ke-23 dari “Operasi True Promise 4”.
Sebelumnya, IRGC juga mengklaim berhasil menghancurkan sejumlah aset militer AS di Kuwait, Bahrain, dan UEA. Markas besar pasukan AS di pangkalan Sheikh Isa, Juffair, Ali al-Salem, dan al-Azraq masuk dalam daftar target yang dihantam.
Fasilitas Air Jadi Target, Krisis Kemanusiaan Mengancam
Serangan terhadap fasilitas desalinasi menandai eskalasi baru yang mengerikan dalam konflik ini. Di kawasan Teluk yang gersang, fasilitas desalinasi adalah infrastruktur paling vital bagi kelangsungan hidup warga sipil. Ratusan fasilitas desalinasi tersebar di sepanjang pantai Teluk Persia, dan negara-negara Arab sangat bergantung padanya untuk air minum.
Di bawah hukum internasional, fasilitas desalinasi seharusnya dilindungi karena merupakan infrastruktur sipil yang vital . Serangan terhadap fasilitas ini berpotensi menciptakan krisis kemanusiaan yang mendalam.
Kronologi Konflik yang Meluas
Rentetan serangan ini bermula dari serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menyasar jantung ibu kota Teheran. Agresi tersebut seketika memicu amarah Teheran, yang kemudian merespons dengan mengerahkan ratusan drone dan rudal ke posisi militer Israel dan pangkalan AS di seluruh Timur Tengah.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari sepekan ini menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran, lebih dari 300 orang di Lebanon, dan sekitar selusin orang di Israel . Enam personel militer AS juga dilaporkan tewas.
Dampak serangan juga meluas ke negara-negara Teluk lainnya. Dubai International Airport sempat menutup operasional, dan seorang pengemudi asal Pakistan tewas terkena pecahan rudal di kawasan Al Barsha . Kilang minyak utama Bahrain juga dilaporkan terbakar imbas serangan Iran. ***





Tinggalkan Balasan