Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump membangun koalisi militer internasional untuk mengamankan Selat Hormuz menemui jalan buntu.


KOSONGSATU.ID —Sejumlah sekutu utama AS, dari Eropa hingga Asia, secara tegas menolak mengirimkan kapal perang ke pusat konflik dengan Iran tersebut, memicu kemarahan Trump yang menuduh mereka “lupa budi”.

Jerman menjadi salah satu penolak paling vokal. Menteri Pertahanan Boris Pistorius mempertanyakan logika permintaan Washington.

“Apa yang bisa dicapai oleh segenggam fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak bisa dicapai sendiri oleh Angkatan Laut AS yang perkasa?” ujarnya, seperti dikutip The Wall Street Journal. “Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya.”

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan, negaranya tidak akan segera menjadi bagian aktif dari konflik ini.

Italia dan Spanyol: Misi EU Tak Akan Diperluas

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyatakan misi angkatan laut Uni Eropa di Laut Merah tidak akan diperluas hingga mencakup Selat Hormuz. Italia memilih tidak terlibat lebih jauh dalam konflik bersenjata dengan Iran. Spanyol juga enggan terlibat dengan alasan menghindari keterlibatan langsung dalam perang yang meluas.

Inggris: Dukungan Terbatas, Bukan Kapal Perang

Perdana Menteri Keir Starmer menjadi sasaran kritik langsung Trump. Menurut Trump, Starmer awalnya menolak mengirim kapal induk Inggris “ke dalam bahaya.”

Trump mengungkapkan kekecewaannya, “Apakah kami mendapat dukungan atau tidak, saya bisa mengatakan ini, dan saya katakan kepada mereka: Kami akan mengingatnya.”

Starmer kemudian menyatakan Inggris menjajaki opsi bantuan seperti drone pemburu ranjau, namun menegaskan negaranya tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas.

Prancis: Kondisi Harus Memungkinkan

Presiden Emmanuel Macron disebut Trump mendapat nilai “delapan dari sepuluh” atas responsnya.

Prancis menyatakan bekerja sama dengan sejumlah negara untuk kemungkinan misi internasional, namun hanya jika “kondisi memungkinkan” dan pertempuran telah mereda.

Australia: Fokus pada Diplomasi

Menteri Transportasi Australia Catherine King secara eksplisit menyatakan tidak akan mengirim kapal.

Pemerintah Australia beralasan belum menerima permintaan resmi dan lebih memilih solusi diplomatik.

Jepang dan Korea Selatan: Masih Mengkaji

Jepang dan Korsel mengambil sikap hati-hati. Kemenlu Korsel menyatakan akan “mengkoordinasikan dan mengkaji secara cermat” situasi dengan AS.

Sementara itu, PM Jepang Sanae Takaichi dijadwalkan bertemu Trump pada Kamis (19/3/2026) dan diperkirakan akan dimintai komitmen langsung.

China: Seruan De-eskalasi

Juru bicara Kedutaan Besar China untuk AS, Liu Pengyu, hanya menyatakan bahwa “semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil.” China akan “memperkuat komunikasi dengan pihak terkait” untuk de-eskalasi. Meski 90 persen impor minyak China melewati Selat Hormuz, belum ada komitmen resmi dari Beijing.

Reaksi Trump: Marah dan Sindir NATO

Gelombang penolakan ini memicu kemarahan terbuka Trump. Di Gedung Putih, Senin (16/3/2026), ia menyindir sekutu sebagai bukti kelemahan NATO.

“Beberapa negara yang selama ini kami lindungi justru tidak terlalu antusias membantu,” keluh Trump. “Kami memiliki 45.000 personel militer di Jepang, 45.000 di Korea Selatan, 50.000 di Jerman. Kami melindungi negara-negara ini, tetapi ketika kami bertanya, ‘Apakah kalian memiliki kapal penyapu ranjau?’ mereka menjawab, ‘Bisakah kami tidak ikut campur?'”

Trump memperingatkan jika sekutu NATO tidak membantu, “akan sangat buruk bagi masa depan” aliansi tersebut.

Analisis: Mengapa Sekutu Menolak?

Pengamat menilai penolakan ini bukan tanpa alasan. Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan AS, mengatakan Trump gagal membangun landasan aliansi sebelum perang. “Sekarang dalam banyak hal, dia seperti pistol dihadapkan ke kepalanya sendiri karena harga minyak yang melonjak,” katanya.

Wendy Gilmour, mantan Asisten Sekretaris Jenderal NATO, menambahkan banyak negara enggan bergabung karena tidak ingin menjadi pihak yang berperang. “AS dan Israel telah melancarkan perang pilihan dengan menyerang Iran. Dampak lanjutannya tampaknya tidak dipikirkan dengan matang.”

Jim Townsend, mantan pejabat Pentagon, menyebut negara-negara Eropa “tersengat” oleh perlakuan Trump. “Tidak banyak perasaan baik dari negara-negara Eropa terhadap Amerika Serikat saat ini, terutama karena mereka tidak menjadi bagian dari proses menjelang perang ini.”

Di tengah penolakan, Iran terus melancarkan serangan balasan dan memperingatkan bahwa setiap negara yang membantu AS menyerang Iran, fasilitas minyak dan gas mereka akan menjadi target.***