
Masjid yang Menjadi Rumah bagi Siapa Saja
Beberapa ratus kilometer dari sana, Medan menghadapi babnya sendiri. Banjir yang datang sejak Rabu membuat 7.402 rumah di 19 kecamatan terendam, memaksa ribuan orang mengungsi ke mana pun ada tempat kering yang memungkinkan.
Di antara semua tempat itu, Masjid Mustaqim berdiri dengan peran yang tidak direncanakan tetapi sangat dibutuhkan. Pada malam Jumat, ketika angin masih membawa bau air keruh, sekelompok pengungsi datang dari berbagai penjuru. Mereka datang bukan hanya dari satu agama.
“Tidak hanya yang beragama Islam. Ada juga yang bukan,” ujar Meilina Siregar dari Tim Panitia Natal Nasional. Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang tidak mudah dilihat dalam keseharian: sebuah masjid yang berubah menjadi ruang universal—tempat berlindung yang tidak menanyakan identitas sebelum membuka pintu.

Instruksi yang sama dari presiden menyentuh Sumatera Utara, membuat Tim Natal Nasional bergerak cepat. Pada pukul 22.00 WIB, mereka tiba di Masjid Mustaqim membawa 100 paket sembako—bagian kecil dari 1.100 paket yang mereka salurkan ke berbagai titik lain: PMKRI, PKM GMKI Medan, Panti Asuhan Universal, BPBD Sumut, hingga MDA Hidayatullah.
Beras, minyak, gula, ikan kaleng, susu, teh, kopi, mi instan—barang-barang yang tampak sederhana tetapi menjadi penahan kecemasan bagi ratusan pengungsi yang malam itu tidur berdekatan.
Muji, kepala lingkungan yang mendampingi penyaluran, hanya memastikan semuanya berjalan tertib. Tidak ada pidato. Tidak ada kamera yang merekam. Hanya upaya kecil menjaga martabat orang-orang yang tiba dengan pakaian basah.
Air yang Menguji, Solidaritas yang Menjawab
Dari dapur MBG di Aceh hingga serambi Masjid Mustaqim di Medan, respons bencana di Sumatera memperlihatkan mosaik solidaritas yang jarang terekam dalam statistik resmi. Di satu sisi, sistem negara bekerja—menggerakkan dapur, logistik, dan instruksi. Di sisi lain, masyarakat sipil, organisasi keagamaan, dan relawan mengisi ruang-ruang yang tak sempat dijangkau oleh struktur formal.
Keduanya saling menambal, seperti dua sisi sungai yang meluap namun tetap mencari keseimbangan.
Pada akhirnya, banjir selalu meninggalkan lumpur, tetapi di antara lumpur itu tumbuh cerita-cerita kecil tentang ruang ibadah yang berubah menjadi rumah siapa saja, dan tentang dapur sederhana yang menyala demi menjaga perut-perut yang mungkin belum makan seharian.
Sumatera mungkin sedang diuji oleh air, tetapi jawabannya datang dari manusia—dengan tangan yang sibuk, langkah yang letih, dan kepedulian yang selalu menemukan jalan, bahkan ketika jalan itu sendiri terputus.***




Tinggalkan Balasan