Hujan yang tak kunjung berhenti menenggelamkan Aceh dan Sumatera Utara dalam warna muram yang sama, tetapi justru dari genangan itulah muncul aliran solidaritas yang bergerak lebih cepat daripada air yang naik.
KOSONGSATU.ID—Di tengah hujan yang tak kunjung reda, Aceh dan Sumatera Utara bergerak seperti dua halaman dari kisah yang sama—air bah menyatukan mereka dalam kepungan krisis, tetapi juga dalam simpul-simpul solidaritas yang tumbuh di tempat-tempat yang tak pernah direncanakan.
Dapur-Dapur yang Menyala di Tengah Gelap Air Bah
Pada Sabtu siang yang muram itu, angka yang keluar dari Aceh terdengar seperti statistik dari wilayah perang: 52 SPPG, 185.049 paket makan bergizi, dan 11 kabupaten/kota yang terputus atau terendam.
Namun, bagi para petugas di lapangan, angka-angka itu bukan sekadar hitungan logistik, melainkan bukti bahwa dapur-dapur yang biasanya melayani para murid kini harus berubah menjadi benteng penyelamat.
Mustafa Kamal, Kepala Regional BGN Aceh, menggambarkan momen itu sebagai kerja tanpa jeda. Tanpa perlu dikemas dalam retorika, suaranya menyiratkan ritme darurat yang sudah mereka jalani selama tiga hari terakhir.
“Ada 52 SPPG yang beroperasi. Total paket MBG yang didistribusikan sejak 26 hingga 28 November mencapai 185.049 paket,” ujarnya—sebuah pernyataan yang lebih terdengar seperti laporan medan ketimbang keterangan resmi.

Di wilayah Bireuen saja, lebih dari 101 ribu paket disalurkan. Kabupaten-kabupaten seperti Aceh Utara, Pidie, Subulussalam, dan Lhokseumawe menerima sisanya—aliran kecil dari jaringan bantuan yang terus dipaksa mencari celah di antara jalan yang terputus dan sinyal yang hilang.
Sementara itu, Pidie Jaya, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Bener Meriah tetap terjebak dalam kesunyian jaringan—daerah-daerah yang belum tersentuh karena aksesnya tinggal nama.
Ketika sekolah-sekolah diliburkan, dapur MBG di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beralih fungsi. Tidak ada waktu untuk menyesuaikan diri; mereka sekadar bergerak mengikuti kebutuhan paling mendesak.
Instruksi dari Presiden Prabowo Subianto datang dengan nada yang tegas: percepat pemulihan, pastikan tidak ada korban yang terabaikan. Dalam kekacauan cuaca, komando pusat itu menjadi semacam garis lurus, acuan bagi semua yang terlibat.

Masjid yang Menjadi Rumah bagi Siapa Saja
Beberapa ratus kilometer dari sana, Medan menghadapi babnya sendiri. Banjir yang datang sejak Rabu membuat 7.402 rumah di 19 kecamatan terendam, memaksa ribuan orang mengungsi ke mana pun ada tempat kering yang memungkinkan.
Di antara semua tempat itu, Masjid Mustaqim berdiri dengan peran yang tidak direncanakan tetapi sangat dibutuhkan. Pada malam Jumat, ketika angin masih membawa bau air keruh, sekelompok pengungsi datang dari berbagai penjuru. Mereka datang bukan hanya dari satu agama.
“Tidak hanya yang beragama Islam. Ada juga yang bukan,” ujar Meilina Siregar dari Tim Panitia Natal Nasional. Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang tidak mudah dilihat dalam keseharian: sebuah masjid yang berubah menjadi ruang universal—tempat berlindung yang tidak menanyakan identitas sebelum membuka pintu.




Tinggalkan Balasan