Ketegangan dengan Trump dorong Eropa ambil sikap mandiri soal Palestina dan Perang Iran. Pengaruh AS diprediksi menurun drastis.
KOSONGSATU. ID – Ketegangan hubungan antara Eropa dan Amerika Serikat sejak Presiden Trump kembali berkuasa di Gedung Putih rupanya membawa sebuah “berkah” tersembunyi.
Secara perlahan, Eropa mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Washington dan berani mengambil sikap politik yang jauh lebih mandiri. Meskipun belum sepenuhnya independen, pergeseran ini terlihat sangat jelas ketika kita menengok dua isu fundamental: pengakuan terhadap Palestina dan respons terhadap Perang Iran.
Langkah Berani Perancis Mengakui Palestina
Perubahan sikap ini mencolok saat Perancis mengambil langkah bersejarah di kancah global pada tahun 2025. Presiden Emmanuel Macron secara resmi menerima surat kepercayaan (credential) dari Duta Besar Palestina. Keputusan ini menandai pertama kalinya Perancis menerima perwakilan resmi Palestina pada tingkat tersebut di PBB.
Menariknya lagi, sosok yang mengisi posisi penting ini adalah seorang diplomat perempuan tangguh, Hala Abou Hassira. Langkah berani ini menunjukkan kemauan Eropa untuk mulai menetapkan arah kebijakannya sendiri.
Menolak Arahan Trump dalam Perang Iran
Selain isu Palestina, kemandirian Eropa juga mengemuka di tengah berkecamuknya Perang Iran. Perancis bersama sejumlah negara Eropa lainnya secara tegas menolak ajakan Presiden Trump untuk ikut campur dalam konflik di kawasan Teluk.
Penolakan terang-terangan ini sontak membuat Trump naik pitam. Ia merasa sekutu-sekutunya meninggalkannya, padahal Amerika Serikat merasa telah banyak membantu Eropa menghadapi konflik di Ukraina.
Di sisi lain, negara-negara Eropa tampaknya sudah kehabisan kesabaran. Perlakuan Washington yang seringkali terkesan memosisikan diri sebagai pihak yang mendikte—bahkan mem-bully—memicu Eropa untuk mulai mengambil jarak yang tegas.
Kritik Pedas Jeffrey Sachs di Parlemen Eropa
Kesadaran Eropa untuk berubah makin menguat setelah pidato fenomenal Prof. Jeffrey Sachs dari Columbia University beberapa waktu lalu. Saat berbicara di hadapan Parlemen Eropa, Sachs melontarkan kritik tajam yang membungkam para pemimpin negara yang hadir.
Ia secara blak-blakan menyindir bahwa selama ini kebijakan luar negeri Eropa “dibuat” di Washington, sementara kebijakan luar negeri Amerika justru “dibuat” di Tel Aviv. Tamparan keras dari sang profesor menyadarkan banyak pihak di Benua Biru. Mereka sadar bahwa mereka harus segera mengambil kendali atas kebijakan keamanan global mereka sendiri.
Masa Depan Geopolitik: Menuju NATO Tanpa Amerika?
Perkembangan pasca-Trump dan dinamika Perang Iran menjadi titik balik yang krusial. Pertanyaan besarnya kini mengarah pada postur kebijakan luar negeri Eropa di masa depan. Akankah Eropa semakin independen, bahkan berani mengambil opsi paling ekstrem seperti membentuk aliansi keamanan mandiri (NATO minus Amerika)? Ataukah mereka pada akhirnya akan kembali bergantung pada Washington karena tekanan ekonomi dan militer?
Satu hal yang pasti, usainya Perang Iran nanti akan menulis ulang peta geopolitik global secara radikal. Dunia sedang menyaksikan sebuah transisi besar. Pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan di mata sekutu tradisionalnya dipastikan menurun di masa mendatang.
Eropa kini memegang momentum emas untuk membuktikan bahwa mereka sungguh mampu berdiri sendiri sebagai poros kekuatan utama yang tidak lagi tunduk pada dikte pihak luar.***




Tinggalkan Balasan