Kritik tajam atas narasi bias Basalamah, Felix Siauw, dan Abu Janda terkait perang Iran-Israel. Berhenti terjebak ilusi sektarian. 


KOSONGSATU. ID – Di tengah eskalasi konflik yang membetot perhatian global, diskursus publik di Tanah Air justru riuh oleh “perang opini” yang menjauh dari esensi.

Alih-alih memberikan pisau bedah geopolitik yang jernih, figur-figur populer yang memiliki ruang gema besar ini justru menyeret audiens ke dalam pusaran bias yang membutakan.

Narasi yang mereka bangun—mulai dari klaim konspirasi yang meremehkan eskalasi hingga simplifikasi sejarah yang serampangan—bukanlah sekadar kekeliruan analisis biasa. Lebih jauh dari itu, pandangan mereka adalah cerminan dari fanatisme yang beralaskan ilusi sektarian dan polarisasi ideologis yang sudah mengakar.

Untuk memahami bagaimana distorsi realitas ini beroperasi dan meracuni nalar publik, mari kita bongkar anatomi sesat pikir mereka lapis demi lapis.

​Penjara Kognitif: Antara “Sandiwara” Basalamah dan Penyangkalan Abu Janda

​Ketika dunia berguncang oleh hujan rudal yang secara presisi menghantam pangkalan militer AS dan wilayah Israel, publik Indonesia justru disuguhi tontonan psikologis yang memprihatinkan: denialism massal.

​Di satu sisi, Ustaz Khalid Basalamah dengan tenang melontarkan klaim bahwa serangan Iran hanyalah “sandiwara” dan rudal-rudal tersebut hanya menyasar tanah kosong.

Di kutub yang lain, Abu Janda, sosok yang kerap membawa narasi pro-Zionis, bersikeras mengecilkan dampak kerusakan dari serangan balasan tersebut. Dua kutub yang seolah berseberangan ini nyatanya bersatu dalam satu ruang gelap bernama disonansi kognitif.

​Mengapa tokoh dengan pengikut besar memilih membohongi realitas? Ilmu psikologi menjawabnya melalui konsep Motivated Reasoning (penalaran yang dimotivasi).

Otak manusia sering kali bertindak layaknya pengacara bayaran yang bertugas membela ego dan identitas kelompok, bukan mencari kebenaran objektif.

​Bagi kalangan yang selama ini memelihara sentimen anti-Syiah, mengakui kehebatan Iran melawan Israel sama dengan meruntuhkan fondasi teologis yang mereka bangun bertahun-tahun.

Keyakinan mereka bukan lagi sekadar pendapat, melainkan baju zirah identitas. Ketika fakta di lapangan menunjukkan Iran berani menantang hegemoni AS dan Israel—sementara sebagian negara Arab justru sibuk menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv—fakta tersebut terasa seperti ancaman.