Dalam sunyi pengasingan dan hiruk kekuasaan, Soekarno merawat satu keyakinan yang tak pernah berubah: setiap makhluk hidup layak diperlakukan dengan rasa kasihan.


KOSONGSATU.ID-Di Ende, Flores, keyakinan itu menemukan bentuk paling intim. Jae Bara, pengawal Soekarno selama masa pembuangan, mencatat bahwa Bung Karno memiliki “sahabat-sahabat khusus”: kera dan kucing. Jumlahnya bukan satu dua, melainkan sekitar 35 ekor. Mereka bukan sekadar peliharaan, melainkan teman sehari-hari yang menemani hari-hari panjang seorang tokoh yang dijauhkan dari panggung sejarah.

Relasi serupa juga tampak di Bengkulu. AM Hanafi—kelak menjadi Duta Besar RI untuk Kuba—mengenang bagaimana Inggit Garnasih memelihara seekor kucing kampung liar. Bukan ras mahal, bukan simbol status. Kucing itu kerap menunggu di dekat Bung Karno seusai salat. Tangannya mengelus perlahan, seolah menemukan ketenangan kecil di sela tekanan besar.

Tak Sampai Hati Membunuh Nyamuk

Soekarno sering disebut paradoks. Ia presiden yang menandatangani hukuman mati bagi musuh politik, termasuk Kartosoewirjo, sahabat lamanya sekaligus pemimpin DI/TII. Namun dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, ia menulis dengan nada jujur: ia tak pernah sanggup membunuh seekor nyamuk.

“Aku berbisik: pergilah, jangan gigit aku,” kenangnya. Guntur Soekarnoputra menguatkan cerita itu. Nyamuk di kelambu cukup dihalau keluar, bukan ditepuk mati. Bagi Soekarno, kehalusan rasa bukan kelemahan, melainkan ukuran kemanusiaan.

Elang Jawa dan Imajinasi Negara

Belas kasih itu juga menjelma simbolik. Pada awal 1950-an, Soekarno menginisiasi sayembara lambang negara. Rancangan Burung Garuda karya Sultan Hamid II terpilih, lalu disempurnakan atas masukan presiden. Untuk membedakannya dari bald eagle Amerika Serikat, Soekarno menambahkan jambul di kepala garuda—ciri khas Elang Jawa.

Burung, bagi Soekarno, bukan sekadar ornamen. Ia simbol kemerdekaan yang hidup, bebas, dan berakar pada alam Nusantara.

Rusa Istana Bogor

Di Istana Bogor, kecintaannya pada binatang mengambil wujud lain. Soekarno memelihara rusa—awalannya hanya sembilan jantan dan 48 betina. Ia memberi makan dari tangannya sendiri. Rusa-rusa itu berkembang biak hingga ratusan ekor, berkeliaran bebas di halaman istana.

“Adakah presiden lain yang punya ratusan rusa berkeliaran di halaman rumahnya?” ujarnya suatu kali. Bagi Soekarno, mereka bagian dari keluarga. Tat Twam Asi yang ia hafalkan sejak kecil terus diajarkannya kepada anak-anaknya. Guntur mengingat ancaman yang tak pernah main-main: jangan sekali-kali menembak binatang.

Marah karena Kijang

Empati itu muncul bahkan saat menonton film. Dalam sebuah pemutaran di istana, adegan kijang tertembak—masih memiliki anak—disambut tawa sebagian penonton. Soekarno berdiri dan membentak: “Kamu tidak tahu rasa kasihan.” Ruangan langsung senyap.

Pengalaman serupa terjadi di Kandangan, Jawa Timur, 1947. Seorang pengawal menembak kijang liar. Dagingnya dibagi-bagikan, sebagian dijadikan dendeng untuk Bung Karno. Ia menolak. Para pengawal dikumpulkan, ditegur keras: bagaimana jika kijang itu masih menyusui anaknya? Sejak hari itu, berburu dihentikan.