Marah karena Kijang
Empati itu muncul bahkan saat menonton film. Dalam sebuah pemutaran di istana, adegan kijang tertembak—masih memiliki anak—disambut tawa sebagian penonton. Soekarno berdiri dan membentak: “Kamu tidak tahu rasa kasihan.” Ruangan langsung senyap.
Pengalaman serupa terjadi di Kandangan, Jawa Timur, 1947. Seorang pengawal menembak kijang liar. Dagingnya dibagi-bagikan, sebagian dijadikan dendeng untuk Bung Karno. Ia menolak. Para pengawal dikumpulkan, ditegur keras: bagaimana jika kijang itu masih menyusui anaknya? Sejak hari itu, berburu dihentikan.
Jalak Bali dalam Saku Celana
Di Istana Tampaksiring, Bali, kisah lain beredar di kalangan pengawal. Letnan Satu C.H. Srijono tergoda membeli jalak Bali di pasar. Burung itu diselipkan ke saku celana agar tak ketahuan. Namun Soekarno melihat gerak-gerik aneh.
“Itu apa?” tanyanya. Jawabannya singkat. Perintahnya lebih singkat lagi: lepaskan. Jalak Bali terbang bebas, meninggalkan pembeli yang hanya bisa menghela napas. Bagi Soekarno, kebebasan burung tak bisa ditawar.
Ikan Soekarno dan Diplomasi Sunyi
Kisah cinta pada makhluk hidup bahkan menyeberang batas negara. Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto pernah menceritakan “Ikan Soekarno” di Irak. Pada 1960, Bung Karno menebar benih ikan ke Sungai Tigris. Ikan itu berkembang dan menjadi bahan utama masgouf, hidangan khas Ramadhan di Baghdad. Di sejumlah restoran, ikan tersebut dikenal sebagai “ikan Soekarno”—sebuah diplomasi sunyi yang hidup hingga kini.
Elang Flores dan Merah Putih
Di Ende, Flores, alam kembali memberi inspirasi. Bupati Ende Marsel Petu menyebut burung elang Flores (Nisaetus floris) sebagai salah satu pemantik imajinasi Soekarno. Dada putih dan sayap merah burung itu, menurutnya, menguatkan pilihan Bung Karno pada warna Merah Putih sebagai bendera negara.
Benar atau tidak secara historis, kisah itu menegaskan satu hal: bagi Soekarno, alam bukan latar pasif, melainkan guru yang terus berbicara.
Di akhir semua cerita ini, potret Soekarno tampak lebih utuh. Ia bukan hanya presiden dengan pidato berapi-api, tetapi seorang manusia yang menolak sangkar—bagi burung, kijang, bahkan nyamuk. Dalam keyakinannya, kemerdekaan sejati memang dimulai dari rasa kasihan.***




Tinggalkan Balasan