Pesan menohok Tan Malaka kepada Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim itu tampaknya masih relevan hingga kini.

KOSONGSATU.ID—Pada 24 Januari 1946 malam, pada sebuah pertemuan antara Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim, di Pegangsaan Timur, Jakarta, Tan Malaka hadir tanpa diundang. Di tengah pertemuan itu, tiba-tiba ia berkata tegas:

“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan?

Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar.

Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku…..

Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen.

Hari ini aku masih melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi ambtenaar…..

Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat. Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka, dan apabila kalian tidak segera memperbaikinya, maka sampai kapan pun bangsa ini tidak akan pernah merdeka!

Hanya para pemimpinnya yang akan mengalami kemerdekaan, karena hanya mereka adil makmur itu dirasakan. Dengarlah perlawananku ini…..

Karena apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara. Esok, adalah hari di mana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka 100 persen.”

Sebagaimana dicatat dalam “Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang” karya Tan Malaka, Bung Karno bahkan merespons pernyataan itu dengan: “Kata-katanya sungguh menghinaku, meremehkan semangat kerakyatanku!”

Cita-cita Tan Malaka agar Indonesia merdeka 100 persen juga pernah dirumuskan dalam sebuah brosur politik-ekonomi berjudul “Politik” yang ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945.

Selain brosur “Politik”, di tahun yang sama Tan Malaka juga menulis dua brosur lainnya, yaitu “Muslihat” dan “Rencana Ekonomi Berjuang”.

Peringatan Tan Malaka ini sepertinya cukup relevan saat ini dan bisa menggugah kesadaran kita arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya.

Pertanyaannya kemudian: apakah kita saat ini sudah benar-benar merdeka 100%?***