Di tengah gemuruh perang Surabaya 1945, Tan Malaka menulis Merdeka 100%—manual revolusi yang menyerukan kekuasaan rakyat, nasionalisasi ekonomi, dan persatuan melawan elite pengganti penjajah.
KOSONGSATU.ID—Suara tembakan masih bersahutan di Surabaya akhir November 1945. Bau mesiu bercampur teriakan “Merdeka!” memenuhi udara.
Di tengah kekacauan itu, Tan Malaka—pemimpin revolusioner yang lama hidup dalam pengasingan—menyisihkan waktu menulis. Bukan memoar, bukan laporan perang. Tapi sebuah naskah yang ia beri judul provokatif: Merdeka 100%.
Karya itu bukan buku tebal dengan bahasa akademik. Ia membungkus gagasan politik, ekonomi, dan strategi pergerakan dalam bentuk percakapan dramatik—tiga dialog yang diberi judul Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Muslihat.
Ditulis di sela-sela baku tembak, naskah ini menjadi semacam “manual revolusi” yang tak pernah resmi diadopsi negara, namun jejaknya terasa hingga kini.
Politik: Momentum yang Tak Boleh Hilang
Dalam bagian Politik, Tan Malaka menulis:
“Dua lusin tahun lamanya saya menunggu-nunggu kejadian yang berlaku dengan pesat dahsyat di Indonesia sekarang ini…”
Baginya, proklamasi 17 Agustus hanyalah pintu awal. Kemerdekaan yang sejati harus diisi oleh kekuasaan rakyat pekerja—buruh, tani, dan pemuda—bukan segelintir elite yang menggantikan posisi penjajah. Ia memperingatkan bahwa momen revolusi seperti ini jarang datang, dan jika tidak dikelola dengan kepemimpinan yang terorganisir, ia akan lenyap.
“Tan Malaka melihat republik ini berpotensi jatuh pada kemerdekaan setengah hati,” kata sejarawan Anhar Gonggong, pada sebuah kesempatan. “Dia ingin jaminan bahwa kemerdekaan tak hanya milik elite politik.”




1 Komentar