Ekonomi: Sosialisme atau Ilusi Kemerdekaan

Empat hari kemudian, ia menulis Rencana Ekonomi Berjuang. Gagasannya terang: kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi hanyalah simbol.

“Semboyan kita: RENCANA EKONOMI BERJUANG! KEMERDEKAAN 100%! RENCANA EKONOMI SOSIALISTIS!”

Tan Malaka menuntut nasionalisasi aset strategis, penguasaan negara atas sumber daya alam, dan kemandirian dari modal asing. Ia memadukan strategi ekonomi perang untuk bertahan di tengah blokade dengan visi jangka panjang membangun ekonomi sosialis.

Beberapa sejarawan menafsirkan, Ini adalah pemikiran yang menolak ketergantungan. Dia sudah melihat bahaya ‘kolonialisme baru’ bahkan sebelum istilah itu populer.

Muslihat: Satu Kalangan untuk Semua

Bagian Muslihat ditulis 2 Desember 1945. Dua tokoh fiktif, Si Pacul dan Si Godam, berdebat tentang strategi organisasi. Kesimpulannya: semua kekuatan yang setia pada perjuangan Merdeka 100% harus berada dalam satu kalangan atau platform.

“Paling baik kalau di Indonesia cuma ada satu Partai Murba saja,” tulisnya, menyiratkan kritik terhadap multipartai yang ia anggap memecah kekuatan revolusi.

Relevansi di Indonesia Kini

Tujuh puluh sembilan tahun kemudian, gagasan Merdeka 100% terdengar seperti kritik terhadap republik yang telah lama merdeka di atas kertas, namun belum sepenuhnya lepas dari belenggu.

Di bidang politik, kedaulatan rakyat sering tereduksi menjadi pemilu lima tahunan yang mahal dan sarat transaksi.

Di bidang ekonomi, sumber daya strategis masih bergantung pada investasi asing dan dikuasai segelintir konglomerat. Dalam organisasi rakyat, gerakan buruh, petani, dan mahasiswa masih berjalan sendiri-sendiri.

“Persis seperti yang diperingatkan Tan Malaka,” kata peneliti politik Asvi Warman Adam, dalam sebuah kesempatan. “Selama rakyat tidak memegang kendali penuh, kita belum merdeka 100 persen.”

Jejak yang Tersisa

Tan Malaka akhirnya gugur di Kediri pada 1949, tewas ditembak pasukan Divisi Brawijaya. Naskah Merdeka 100% baru diterbitkan puluhan tahun kemudian, pertama kali oleh Marjin Kiri pada 2005.

Meski lama terpinggirkan dari narasi resmi sejarah, gagasan yang ia tulis di tengah dentuman meriam itu kini kembali dibicarakan, terutama ketika isu kedaulatan ekonomi dan politik mengemuka.

“Merdeka 100% bukan sekadar slogan,” kata sejarawan Bonnie Triyana di sebuah kesempatan. “Itu tuntutan yang belum selesai.”***