Daryono memiliki kontribusi Ilmiah dan rekam jejak global. Dunia sains internasional telah mengakui dedikasinya melalui: 80+ Publikasi Ilmiah Internasional: Menjadi rujukan global dalam studi geografi dan geosains dan belasan penelitian nasional yang memberikan solusi berbasis data untuk tantangan spesifik di Indonesia.

Sosoknya juga membawa nama Indonesia ke panggung dunia, beliau berperan aktif sebagai perwakilan Indonesia dalam Sub-Committee on Meteorology and Geophysics (SCMG) ASEAN. Di komite ini, Daryono berhasil menyelaraskan kebijakan mitigasi bencana dan kolaborasi meteorologi di tingkat regional.

“The Calm in the Storm”

Di tengah hiruk-pikuk disinformasi dan ketakutan publik saat bencana alam terjadi, Daryono hadir sebagai penenang. Melalui platform Twitter/X, ia mampu menerjemahkan data teknis yang rumit menjadi bahasa yang:

  • Lugas: Langsung pada inti permasalahan;
  • Mudah dipahami: Menghilangkan sekat antara ilmuwan dan masyarakat awam; dan
  • Otoritatif: Memberikan rasa aman berbasis fakta ilmiah, bukan spekulasi.

Dampak bagi Mitigasi Bencana Nasional

​Mundurnya Daryono memunculkan spekulasi mengenai kondisi internal BMKG dan kekhawatiran akan kekosongan figur otoritatif yang mampu menenangkan massa saat terjadi bencana.

Selain itu, mundurnya menciptakan tantangan besar bagi BMKG dalam menjaga kepercayaan publik (public trust). Ada tiga risiko utama yang muncul:

Vakumnya Sosok Penenang (The Trust Gap) : Selama ini, kecepatan Daryono dalam membalas sebutan (mention) warga di media sosial telah memangkas birokrasi informasi. Tanpa beliau, ada risiko masyarakat kembali terjebak dalam hoaks saat gempa terjadi karena hilangnya rujukan cepat yang teruji.

Transliterasi Sains yang Terhambat: Tidak semua ilmuwan mampu menjelaskan istilah teknis seperti megathrust atau slip-rate dengan bahasa yang menenangkan. Kepergian Daryono bisa membuat komunikasi BMKG kembali menjadi kaku dan terlalu birokratis.

Integritas vs Birokrasi: Keputusan pensiun dini ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa seorang ilmuwan mungkin merasa lebih “merdeka” dalam menyampaikan kebenaran data ketika berada di luar sistem pemerintahan.