​”Setelah dapat, kain merah dan putih itu kemudian dijahit ibu Fatmawati untuk dijadikan bendera. Menjahitnya sendiri pernah dilakukan di sini, di pesantren ini,” kenang Rachmat Khadar, salah satu keturunan Syekh Musa.

​Kini, bendera asli itu masih tersimpan dalam kotak kayu jati berukir di pesantren. Meski warnanya telah memudar dimakan usia dan terdapat beberapa robekan, ia tetap menjadi bukti fisik bahwa identitas bangsa ini lahir dari kedalaman doa seorang ulama.

​Suaka di Masa Paling Genting

​Peran Syekh Musa mencapai puncaknya pada awal Oktober 1945. Saat itu, Jakarta sedang dalam kondisi kacau akibat teror tentara Sekutu dan Belanda. Bung Karno, Ibu Fatmawati, dan Guntur yang masih bayi terpaksa diungsikan demi keselamatan nyawa mereka.

​Sukanagara kembali menjadi pilihan. Hasjim Ning, dalam otobiografinya, menceritakan bagaimana ia memboyong keluarga presiden tersebut menembus kegelapan malam menuju Pesantren Al-Basyariyah. Syekh Musa tidak hanya memberikan perlindungan fisik bagi sang presiden, tetapi juga menunjukkan ketulusan luar biasa dengan menolak uang bekal yang dititipkan untuk biaya hidup Bung Karno selama mengungsi.

​Warisan Spiritual di Istana Negara

​Selain bendera dan dukungan politik, Syekh Musa mewariskan tradisi religius yang hingga kini masih kita saksikan: Peringatan Isra’ Mikraj di Istana Negara. Beliau adalah sosok yang menganjurkan Bung Karno untuk merayakan peristiwa agung tersebut setiap tahun sebagai bagian dari budaya bangsa yang religius.

​Syekh Musa wafat pada tahun 1953, meninggalkan warisan berupa kemandirian batin dan cinta tanah air yang tak terhingga. Makamnya di Kampung Cikiruh kini menjadi magnet bagi para peziarah yang ingin menyerap semangat perjuangan sang ulama tasawuf.

Mengenang Syekh Musa adalah cara kita menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya direbut dengan bambu runcing dan diplomasi meja bundar. Ada rajutan doa, kain merah-putih yang lusuh, dan kamar sepi di Sukanagara yang turut membentuk takdir besar bangsa ini.***