Seorang ulama tasawuf di Cianjur Selatan merajut warna merah putih dengan doa jauh sebelum proklamasi.


KOSONGSATU. ID – Jauh sebelum proklamasi berkumandang, di sebuah sudut sunyi Cianjur Selatan, warna merah dan putih telah menyatu dalam doa dan rajutan tangan seorang ulama tasawuf.

​Nama Sukanagara di Cianjur Selatan mungkin terdengar sayup bagi sebagian orang, namun bagi sejarah kemerdekaan Indonesia, tempat ini adalah palung spiritual yang dalam.

Di sinilah bersemayam KH. Ahmad Basyari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Musa dan Mama Ajengan Cikiruh. Beliau bukan sekadar ulama biasa; ia adalah sosok tasawuf yang menjadi salah satu pilar batin bagi Ir. Soekarno dalam menyongsong kemerdekaan.

​Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah mencatat bahwa Syekh Musa merupakan satu dari empat ulama besar yang menyokong langkah Bung Karno. Bersama tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari dan Drs. Sosrokartono, Syekh Musa memberikan keyakinan spiritual bahwa fajar kemerdekaan Indonesia segera menyingsing.

​Kamar Sejarah dan Tirakat Sang Proklamator

​Hubungan antara Bung Karno dan Syekh Musa terjalin erat sejak akhir tahun 1930-an. Melalui perantara A.A. Wiranatakusuma—Bupati Cianjur yang kemudian menjadi Mendagri pertama—Bung Karno menemukan tempat bernaung di Pesantren Al-Basyariyah.

​Hingga hari ini, jejak-jejak kedatangan Sang Fajar di Sukanagara masih terjaga rapi. Sebuah kamar sederhana lengkap dengan meja dan kursi kayu menjadi saksi bisu bagaimana Bung Karno sering menginap dan bersemedi di sana. Di tengah riuhnya tekanan politik penjajah, Bung Karno memilih sunyinya Sukanagara untuk merumuskan strategi dan menggembleng mental rohaninya di bawah bimbingan langsung Syekh Musa.

​Merajut Warna Favorit Menjadi Identitas Bangsa

​Satu fakta sejarah yang mungkin jarang terulas di buku sekolah adalah asal-usul fisik Bendera Merah Putih. Jauh sebelum Fatmawati menjahit Bendera Pusaka untuk proklamasi, Syekh Musa telah memulainya di tahun 1939.

​Beliau memesan kain berwarna merah dan putih kepada seorang pengusaha kain asal Pekalongan bernama Haji Harun Hasan. Menariknya, warna merah-putih ini disebut sebagai warna favorit sang Syekh. Pada tahun 1942, bendera tersebut berkibar untuk pertama kalinya di Pesantren Al-Basyariyah di hadapan Bung Karno dan para santri—sebuah aksi nekat yang menandai keberanian spiritual melawan penjajah.