Dugaan baru bahwa Soekarno lahir di Ploso, Jombang, menantang versi sejarah arus utama, yang menyebut Surabaya sebagai tempat kelahiran Sang Proklamator. Akademisi menyebut, temuan ini penting untuk dikaji ulang secara serius.
KOSONGSATU.ID—Tak ada jejak kehidupan nasional yang lebih banyak diteliti dibandingkan tokoh sentral proklamasi Indonesia, Ir. Soekarno. Namun, satu bagian dari biografinya masih menyisakan ruang kabur: di mana dan kapan tepatnya ia dilahirkan?
Soekarno sendiri tak pernah memberi keterangan eksplisit mengenai tempat kelahirannya. Ia hanya menyebut “dekat Gunung Kelud yang baru meletus”. Soal tahun pun tak pasti—kadang disebut 1901, kadang 1902.
Selama ini, Surabaya menjadi versi paling banyak dipegang, dengan tanggal kelahiran 6 Juni 1901. Tapi, belakangan, sejumlah temuan baru mengarah ke Ploso, Jombang, dan tahun 1902.
Ini bukan sekadar soal titik geografis, tetapi menyangkut narasi besar tentang asal mula tokoh yang kelak mengubah wajah Indonesia.
Dalam diskusi publik yang digelar Komunitas Begandring Soerabaia, di Surabaya, Yayan Indrayana, arsitek sekaligus peneliti sejarah lokal, secara terbuka menyatakan bahwa dokumen-dokumen sejarah tak menyebutkan secara eksplisit kelahiran Soekarno di Pandean, Surabaya.
“Saya jujur, kami tidak punya data eksplisit menyebut Pandean sebagai tempat lahir Soekarno. Tapi, kalau ada yang punya data tentang Ploso, silakan dikaji,” ujar Yayan.
Pernyataan ini menggugah ulang diskursus tentang validitas narasi sejarah arus utama. Apalagi, klaim Ploso didukung dokumen arsip, kesaksian lisan, dan bahkan catatan akademik dari sejumlah tokoh perguruan tinggi.
Salah satu suara akademik yang memberi bobot pada klaim Ploso adalah Yon Machmudi, sejarawan dari Universitas Indonesia (UI). Dia menyebut dugaan kelahiran Soekarno di Ploso, Jombang, sebagai “temuan yang menarik secara heuristik”.
Bagi Yon, setiap klaim baru dalam sejarah harus diuji dengan pendekatan akademik. Pertama, dari sisi heuristik, yakni bagaimana sumber dikumpulkan dan apakah ada dokumen primer yang mendukungnya. Kedua, dari kritik sumber, untuk memastikan keabsahan dokumen yang digunakan.
“Jika benar Soekarno lahir saat ayahnya ditugaskan sebagai guru di Ploso pada akhir 1901, dan arsip Jepang menyebut ia bersekolah mula-mula di Jombang, maka klaim ini patut dipertimbangkan,” ungkap Yon.
Dari Arsip Belanda hingga Catatan ITB: Tanda-tanda Mengarah ke Ploso
Data pendukung yang menguatkan klaim Ploso antara lain adalah arsip penugasan ayah Soekarno, Raden Sukeni, yang dikirim ke sekolah rakyat di Ploso pada 28 Desember 1901.
Jika Soekarno lahir pada Juni 1902—seperti tercatat dalam buku induk ITB tahun 1921—maka logika sejarah menyatakan ia besar kemungkinan lahir di sana.
Yon juga menyebut buku Ida Ayu Nyoman Rai: Ibu Bangsa yang menyatakan tahun kelahiran Soekarno adalah 1902, bukan 1901 seperti selama ini dipercaya. Ini diperkuat oleh dokumen-dokumen dari Belanda maupun Jepang yang menyebut masa kecil Soekarno berkaitan erat dengan wilayah Jombang.
Fakta bahwa Ploso saat itu berada dalam wilayah administratif Karesidenan Surabaya membuat penamaan lokasi jadi membingungkan. Namun, dalam konteks sekarang, wilayah itu sudah jelas masuk Jombang.




Tinggalkan Balasan