Lewat Inpres No. 10/2025, Prabowo pacu swasembada jagung. Target 1 juta ton dipatok, Bulog digerakkan, NFA memimpin, ekspor dibidik. Ketahanan pangan jadi visi besar menuju lumbung dunia.
KOSONGSATU.ID—Presiden Prabowo Subianto menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10/2025 yang fokus utamanya mengatur pengadaan dan pengelolaan jagung dalam negeri, serta penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).
Melalui kebijakan ini, pemerintah menargetkan pengadaan satu juta ton jagung pipilan kering sepanjang tahun, dengan harga pembelian yang ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram. Standar ini diharapkan mampu melindungi petani dari fluktuasi pasar.
Bulog kembali memegang peran kunci dalam menyerap hasil panen dan mengolahnya sesuai standar kualitas CJP, di bawah koordinasi Badan Pangan Nasional (NFA).
Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi, menekankan bahwa langkah ini tak sekadar menjaga kestabilan harga, tapi juga mendukung visi besar Prabowo: menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia.
Visi ini ditegaskan langsung oleh Presiden saat berbicara di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) 2025 di Rusia. Di hadapan para pemimpin global, ia menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia tak hanya bisa swasembada dalam waktu singkat, tapi juga menjadi eksportir utama jagung dan beras dalam beberapa tahun ke depan.
Data terakhir menunjukkan Bulog telah menyerap lebih dari 50 ribu ton jagung hingga 20 Juni 2025. Akselerasi serapan terus didorong melalui kolaborasi dengan dinas pangan daerah serta kementerian dan lembaga strategis seperti Kementerian Pertanian, Keuangan, dan Perdagangan. Bahkan, TNI dan Polri ikut dilibatkan guna memastikan jalannya distribusi tanpa hambatan.
National Food Agency sendiri memegang peran sentral: mulai dari penetapan harga dan mutu, penyusunan petunjuk teknis, penganggaran, hingga penugasan operasional kepada Bulog. Selain itu, NFA mengatur mekanisme kompensasi dan menjalin koordinasi lintas sektor untuk memastikan program berjalan menyeluruh dan efektif.
Di tengah tantangan iklim dan gejolak harga global, kebijakan ini menandai keseriusan Pemerintah RI membangun sistem pangan yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan. Dan jagung—komoditas yang dulu hanya jadi pangan alternatif—kini mendapat panggung utama dalam strategi besar menuju kedaulatan pangan nasional.***




Tinggalkan Balasan