Militer Israel bersiap menganeksasi 10 persen daratan Lebanon.
KOSONGSATU.ID – Menteri Pertahanan Israel Israel Katz resmi mengumumkan rencana penguasaan wilayah Lebanon selatan hingga Sungai Litani. Deklarasi yang berlangsung pada Selasa (24/3/2026) ini memanaskan kembali konflik antara militer Israel dan Hizbullah.
Perang terbuka ini telah menewaskan lebih dari seribu orang sepanjang bulan Maret.
Pernyataan terbuka dari pemerintah Israel ini mengubah narasi operasi militer menjadi rencana pendudukan teritorial secara terang-terangan. Langkah ini diambil semata-mata demi keamanan warga Israel. Rencana ini bukan sekadar taktik militer biasa. Secara geografis, ekspansi hingga Sungai Litani setara dengan merampas hampir 10 persen dari total luas daratan negara Lebanon.
”Pasukan Israel akan menguasai jembatan-jembatan yang tersisa dan zona keamanan hingga Sungai Litani untuk menciptakan penyangga pertahanan (defensive buffer) dan menjauhkan ancaman dari komunitas (Israel),” ungkap Katz, sebagaimana dikutip The Jerusalem Post pada Selasa (24/3/2026).
Sikap agresif ini sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich. Sehari sebelumnya, ia menyuarakan perlunya perubahan batas wilayah kedua negara.
”Kampanye militer di Lebanon perlu diakhiri dengan realitas yang sepenuhnya berbeda, baik mengenai keputusan Hizbullah maupun perubahan batas-batas wilayah Israel,” ujar Smotrich melalui Radio Israel pada Senin (23/3/2026).
Ancaman Eksistensial bagi Lebanon
Bagi Lebanon, manuver Israel ini jelas menjadi ancaman nyata. Anggota Parlemen Senior Hizbullah, Hassan Fadlallah, langsung merespons keras rencana aneksasi tersebut. Ia menegaskan perlawanan mutlak dari kelompoknya.
”Setiap pendudukan Israel di selatan Litani merupakan ancaman eksistensial bagi negara Lebanon. Kami tidak punya pilihan selain menghadapi agresi ini dan mempertahankan tanah kami,” kata Fadlallah seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (24/3/2026).
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangkaian peristiwa mematikan pada akhir Februari 2026. Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Tragedi ini langsung dibalas oleh rentetan tembakan roket Hizbullah ke wilayah utara Israel pada awal Maret, menandai berakhirnya gencatan senjata yang sempat disepakati sejak 2024.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merespons dengan memperluas invasi darat. Mereka mengeluarkan perintah evakuasi paksa terhadap lebih dari 100 kota dan desa di Lebanon selatan. Wilayah terdampak evakuasi ini mencakup 14 persen dari total daratan Lebanon.
Hingga pekan ketiga Maret 2026, korban jiwa sipil terus berjatuhan. Lebih dari 1.070 orang tewas, termasuk 120 anak-anak, 80 perempuan, dan 40 tenaga medis. Sementara di pihak Israel, dua tentara dilaporkan tewas. Lebih dari satu juta jiwa kini terpaksa mengungsi demi menyelamatkan nyawa mereka dari zona konflik yang kian meluas.***





Tinggalkan Balasan