Iran menolak gencatan sementara dan menegaskan perang baru bisa berhenti jika serangan dihentikan total di seluruh kawasan.
KOSONGSATU.ID – Iran menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata sementara di tengah perang yang terus meluas. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan Teheran hanya menerima satu skenario: penghentian perang secara menyeluruh, bukan jeda tempur sesaat. Sikap itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Pernyataan itu sekaligus membantah narasi bahwa Iran sedang meminta gencatan kepada Washington. Mengutip laporan Reuters, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu, 1 April 2026, menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump soal Teheran meminta ceasefire sebagai “false and baseless” atau palsu dan tidak berdasar.
Trump Kirim Sinyal Ingin Keluar
Di saat Iran menolak gencatan sementara, Trump justru memberi sinyal ingin segera mengakhiri keterlibatan militer AS. Trump mengatakan Washington akan “out pretty quickly”, meski tetap membuka opsi serangan terbatas bila diperlukan. Namun, di saat bersamaan, ribuan tentara AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 justru mulai tiba di Timur Tengah.
Sinyal campuran itu memperlihatkan satu hal: jalur keluar sedang dicari, tetapi tekanan militer belum sepenuhnya surut.
Associated Press juga melaporkan Trump menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran dan memperpanjang tenggat pembukaan Selat Hormuz hingga 6 April 2026. Trump menyebut pembicaraan untuk mengakhiri perang berjalan “very well”, sehari setelah Teheran menolak proposal ceasefire 15 poin dari Washington.
Laporan AP juga mencatat perang telah menewaskan lebih dari 1.900 orang di Iran, hampir 1.100 orang di Lebanon, dan 18 orang di Israel.
Tekanan Internasional Menguat
Di tengah kebuntuan itu, tekanan global terus membesar. Para menteri luar negeri negara-negara G7 pada 27 Maret 2026 menuntut penghentian segera serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, sekaligus menegaskan pentingnya pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, jalur diplomasi baru mulai muncul. Pakistan, Turki, dan Mesir disebut semakin aktif menjadi mediator, menggantikan dominasi kanal lama kawasan Teluk. Ini menunjukkan bahwa perang belum menuju damai, tetapi dorongan ke meja perundingan mulai mengeras.
Dengan posisi Iran yang menolak gencatan sementara, jalan menuju deeskalasi kini bergantung pada satu syarat utama dari Teheran: perang harus benar-benar dihentikan, bukan sekadar di-pause.***





Tinggalkan Balasan