Iran menawarkan dukungan pangan dan energi bagi Indonesia di tengah gejolak global.


KOSONGSATU.ID — Pemerintah Iran menyatakan kesiapan memperkuat kerja sama dengan Indonesia di sektor ketahanan pangan dan energi. Komitmen itu disampaikan dalam rangkaian pertemuan diplomatik pada 13–14 Februari 2026 di Jakarta.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan negaranya memiliki kapasitas produksi yang dapat dikolaborasikan dengan Indonesia.

“Iran siap bekerja sama dengan Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi. Kami melihat potensi besar untuk saling melengkapi,” ujar Boroujerdi di Jakarta, Jumat (14/2/2026), dikutip dari Antara.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. – Antara

Ia menyebut Iran dapat memasok produk susu, buah-buahan, serta makanan olahan. Sebaliknya, Iran juga membuka peluang impor kopi dan kakao dari Indonesia.

Kerja sama ini mengemuka di tengah ketidakpastian rantai pasok global. Volatilitas harga energi dan komoditas pangan menjadi latar belakang utama pembicaraan kedua negara.

Presiden Bahas Energi dan Migas

Pada 6 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Iran untuk membahas penguatan hubungan bilateral.

Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan kantor kepresidenan, kedua pemimpin menyoroti peluang kerja sama minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan.

Indonesia dinilai dapat memanfaatkan pengalaman Iran dalam pengelolaan migas dan industri petrokimia. Pertemuan itu juga menegaskan komitmen memperluas hubungan ekonomi di tengah dinamika geopolitik.

Hubungan dagang kedua negara sebelumnya telah difasilitasi melalui skema Preferential Trade Agreement (PTA). Data perdagangan 2022 mencatat nilai transaksi bilateral mencapai sekitar US$257,2 juta atau naik sekitar 23 persen dibanding tahun sebelumnya.

Meski data 2025–2026 belum dirilis penuh, Kementerian Perdagangan sebelumnya menyebut kedua negara mendorong diversifikasi ekspor nonmigas.

Diversifikasi Mitra di Tengah Ketegangan Global

Kerja sama ini berlangsung saat ketegangan di Timur Tengah masih memengaruhi stabilitas jalur perdagangan energi dunia.

Gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz dalam dua tahun terakhir berdampak pada fluktuasi harga minyak dan pupuk global.

Indonesia sendiri menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai prioritas nasional periode 2025–2029. Pemerintah mendorong diversifikasi sumber impor energi dan penguatan cadangan pangan strategis.

Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai langkah memperluas mitra strategis merupakan bagian dari politik luar negeri bebas aktif.

Diversifikasi kerja sama dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tertentu. Namun, implementasi teknis tetap menjadi perhatian.

Risiko sanksi internasional terhadap Iran dapat memengaruhi sistem pembayaran dan perbankan. Fluktuasi geopolitik kawasan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Di sisi lain, peluang transfer teknologi pertanian dan akses alternatif pasokan energi menjadi nilai tambah yang dibahas dalam pertemuan awal 2026.

Infografis dibuat menggunakan Gemini AI.

Penguatan kerja sama ini menandai arah baru diplomasi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Detail teknis dan mekanisme perdagangan lanjutan masih akan dibahas pada tahap berikutnya. ***