SNSC Iran mengklaim hampir seluruh tujuan perang tercapai, tetapi proses damai dinilai masih rapuh.
KOSONGSATU.ID – Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran atau Supreme National Security Council (SNSC) pada Rabu, 8 April 2026, mengklaim hampir seluruh tujuan perang melawan Amerika Serikat dan Israel telah tercapai.
Namun, lembaga itu menegaskan konflik belum berakhir karena rincian usulan damai 10 poin masih harus difinalkan dalam proses negosiasi.
SNSC Iran Klaim Tujuan Perang Hampir Tercapai
Dalam pernyataan resminya, SNSC menyebut pihak lawan mengalami kekalahan besar dan menyatakan AS pada prinsipnya menerima kerangka utama usulan Iran. Pernyataan itu dipublikasikan Tasnim News Agency, yang memuat teks lengkap sikap resmi lembaga keamanan tertinggi Iran tersebut.
SNSC menyebut pokok tuntutan Iran mencakup jaminan nonagresi, pengakuan atas program pengayaan uranium, pencabutan sanksi ekonomi, kompensasi perang, serta penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
Namun, klaim itu masih berasal dari versi resmi Iran dan belum dikonfirmasi penuh oleh Washington dalam sumber primer terbuka.
Rencana Damai 10 Poin Masih Menunggu Finalisasi
Sehari sebelumnya, Xinhua melaporkan Iran menolak proposal damai 15 poin dari AS, dan mengirimkan dokumen tandingan berisi 10 poin melalui Pakistan. Laporan itu menyebut Teheran menuntut penghentian agresi, jaminan agar serangan tidak terulang, kompensasi kerusakan perang, dan pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
SNSC juga menyatakan negosiasi lanjutan akan digelar di Islamabad untuk membahas rincian teknis dalam waktu maksimal 15 hari. Meski begitu, Iran menegaskan akhir perang baru akan diterima jika seluruh detail usulan 10 poin disepakati, sehingga status gencatan saat ini belum dapat dibaca sebagai perdamaian final.
Iran Tegaskan Militer Tetap Siaga Penuh
Di tengah jalur diplomasi yang mulai dibuka, Iran memastikan postur militernya tidak diturunkan. Dalam pernyataan yang sama, SNSC menyebut angkatan bersenjata tetap berada pada kesiagaan tinggi dan memperingatkan bahwa setiap pelanggaran atau serangan baru akan dibalas dengan kekuatan penuh.
Sikap itu sejalan dengan laporan AP yang menyebut kesepakatan penghentian serangan selama dua pekan belum mengakhiri kewaspadaan militer di lapangan. Bahkan setelah pengumuman jeda konflik, kekhawatiran atas keberlanjutan kesepakatan masih tetap tinggi karena ruang salah hitung dan pelanggaran masih terbuka.
Joe Kent Soroti Risiko Sabotase Proses Damai
Peringatan tentang rapuhnya proses damai datang dari Joe Kent. Dalam unggahan di akun Facebook resminya pada 8 April 2026, Kent menulis bahwa keberhasilan gencatan senjata mensyaratkan adanya pembatasan terhadap Israel. Ia menyebut bahkan sekutu kadang perlu ditahan agar jalur damai tidak gagal.
Pernyataan Kent itu memperkuat kekhawatiran bahwa negosiasi dapat terganggu oleh perbedaan kepentingan di antara para pihak. Dalam konteks ini, Kent menilai agenda stabilisasi kawasan dan pemulihan ekonomi AS tidak selalu sejalan dengan kepentingan Israel yang dinilainya lebih agresif terhadap Teheran.
Status Joe Kent dan Posisi Resmi AS
Joe Kent pernah dinominasikan Gedung Putih untuk memimpin National Counterterrorism Center pada Februari 2025. Pada Juli 2025, ODNI juga mengumumkan bahwa ia telah menjabat sebagai Direktur NCTC.
Namun, laman kepemimpinan resmi ODNI saat ini menampilkan Joseph Weirsky sebagai Pelaksana Tugas Direktur NCTC, sehingga Kent tepat disebut sebagai mantan Direktur NCTC dalam naskah ini.
Sampai naskah ini disusun, belum ada pernyataan resmi Gedung Putih yang secara terbuka mengonfirmasi bahwa Washington telah menerima seluruh prinsip dalam usulan damai 10 poin versi Iran.
Di sisi lain, belum terlihat tanggapan resmi pemerintah Israel terhadap klaim kemenangan Iran maupun terhadap peringatan Joe Kent soal risiko sabotase.***





Tinggalkan Balasan