Di tengah dunia yang serba data, algoritma, dan kecerdasan buatan, manusia makin sering kehilangan dirinya sendiri. Henri Bergson, filsuf Prancis peraih Nobel, sudah lama mengingatkan: jangan hanya mengandalkan logika dan hitungan—percayalah pada intuisi.
KOSONGSATU.ID—Sejak kecil kita dilatih berpikir rasional: pakai data, rumus, analisis. Hasilnya, kita jadi percaya bahwa yang benar adalah yang bisa dihitung.
Namun, Bergson menegaskan: intelek hanya memotret realitas seperti kamera yang membekukan gerak.
Kehidupan sejati adalah arus yang mengalir—penuh perasaan, waktu, dan pengalaman batin. Itu hanya bisa ditangkap lewat intuisi.
“Intuisi adalah simpati, dengan mana kita masuk ke dalam sesuatu, untuk menghidupinya dari dalam,” kata Henri Bergson, dikutip dari An Introduction to Metaphysics (1903).

Mengapa Intuisi Penting Hari Ini?
Realitas kita sekarang penuh angka: trending topic ditentukan algoritma, musik diatur playlist AI, bahkan berita dipersonalisasi oleh mesin. Kita merasa bebas memilih, padahal seringnya hanya mengikuti “jalur” yang sudah disediakan teknologi.
Di Indonesia, anak muda sering merasa “hidupnya diatur TikTok”: dari gaya berpakaian, musik yang didengar, sampai isu politik yang dipercaya. Segalanya dibanjiri konten viral. Dalam situasi seperti ini, intuisi menjadi benteng terakhir.
Ia membantu kita mendengar suara batin di tengah kebisingan data.
Intuisi Moral: Nurani yang Tak Bisa Dibohongi
Filsuf etika, seperti G.E. Moore atau W.D. Pernah Ross, berbicara tentang intuisi moral berupa pengetahuan langsung—misalnya, bahwa menepati janji itu baik, atau menyakiti orang tanpa alasan itu salah.
Kita tak butuh algoritma untuk tahu itu benar.
Contoh nyata ada di Indonesia: ketika publik ramai-ramai mengecam korupsi pejabat, itu bukan sekadar karena laporan BPK atau data KPK, tapi karena nurani sosial berkata: “ini salah.” Seperti kata Bergson,
“Bila intuisi sejati berbicara, ia selalu mengungkapkan kehidupan, bukan sekadar konsep,” begitu Henri Bergson menulis dalam Creative Evolution (1907).
Ketika Data Tak Cukup
Ambil contoh politik Indonesia hari ini. Lembaga survei bisa merilis data elektabilitas, tapi seorang pemimpin yang bijak tahu: angka tak selalu mencerminkan suara hati rakyat. Kadang, intuisi membaca keresahan warga jauh lebih penting.
Begitu juga di dunia kerja digital. Seorang content creator bisa menganalisis algoritma YouTube atau TikTok, tapi intuisi sering menentukan apakah sebuah ide akan “nyambung” dengan audiens. Data membantu, intuisi menyalakan api kreativitas.

Intuisi Bukan Musuh Data
Yang perlu ditekankan: intuisi bukan berarti anti-logika. Ia adalah pelengkap. Intelek memberi struktur, intuisi memberi nyawa. Justru ketika keduanya bekerja sama, manusia bisa mengambil keputusan yang lebih utuh—bukan sekadar dingin seperti mesin, atau semata perasaan tanpa dasar.
“Hanya intuisi yang memungkinkan kita menangkap kehidupan sebagaimana adanya, dalam arus yang terus mengalir,” Henri Bergson menulis dalam Time and Free Will (1889).
Di era algoritma, kita bisa tahu apa yang sedang tren, apa yang paling laris, apa yang “disarankan” untuk kita konsumsi. Tapi untuk tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, kita harus berani mendengarkan intuisi.
Mungkin sekarang waktunya kita kembali percaya pada intuisi—bukan untuk meninggalkan data, tapi untuk tetap jadi manusia di tengah banjir algoritma.
“Intuisi memberi kita realitas itu sendiri, sementara intelek hanya memberi simbol,” tulis Henri Bergson dalam An Introduction to Metaphysics (1903).***




Tinggalkan Balasan