Kondisi ini berbanding lurus dengan analisis teknikal yang menunjukkan bahwa pasar belum melihat adanya titik balik penguatan yang kuat. Para spekulan di bursa ICE dan CME terpantau masih sangat berhati-hati dalam mengambil posisi beli jangka panjang, mengingat indikator makroekonomi menunjukkan pasokan dari Brasil akan terus membanjiri pasar hingga kuartal kedua tahun ini.

“Peningkatan produksi di Brasil memberikan sentimen negatif terhadap harga kopi global secara sistemik. Kita melihat ada pergeseran beban pasokan yang cukup berat dari produsen ke pasar global,” ungkap perwakilan analis pasar komoditas dalam rilis data bursa terbaru.

Ketahanan Harga Lada Putih Indonesia

Berbeda dengan kopi yang sedang lesu, komoditas lada menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Berdasarkan laporan harian International Pepper Community (IPC) per 13 Februari 2026, harga lada global di pasar spot relatif stabil dengan fluktuasi yang sangat minim. Harga lada hitam (Black Pepper) asal Indonesia tercatat berada di kisaran USD 6.848 per metrik ton, sementara lada putih (White Pepper) Indonesia mencapai USD 9.270 per metrik ton.

Di pasar Asia Tenggara lainnya, lada hitam asal Vietnam diperdagangkan pada kisaran USD 6.400 hingga USD 6.600 per metrik ton. Meskipun ada sedikit penurunan dari sesi sebelumnya, pasar lada tidak mengalami volatilitas ekstrem seperti kopi. Hal ini dikarenakan mekanisme perdagangan lada yang mayoritas masih mengandalkan harga harian (spot price) ketimbang kontrak berjangka di bursa utama.

Bagi Indonesia, stabilitas ini merupakan kabar baik, terutama bagi petani di sentra produksi utama. Data harga lada putih di tingkat petani Bangka Belitung per Januari 2026 masih bertahan di angka Rp142.000 per kilogram. Harga ini menjadi patokan penting yang menunjukkan bahwa daya tawar lada Indonesia masih cukup kuat di tengah dinamika pasar pangan global.

Proyeksi dari IPC untuk sepanjang tahun 2026 memperkirakan produksi lada dunia akan mencapai angka sekitar 530 ribu ton. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan total produksi tahun lalu. Meskipun kenaikan pasokan ini berpotensi memberikan tekanan moderat pada harga di masa depan, para pengamat menilai pasar masih mampu menyerap volume tersebut tanpa memicu kejatuhan harga yang drastis.