Gunung Lewotobi Laki-laki kembali erupsi menyemburkan abu vulkanik tinggi awal Maret 2026.
KOSONGSATU.ID—Warga Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali dikejutkan oleh aktivitas vulkanik. Gunung Lewotobi Laki-laki memuntahkan abu pekat ke udara pada Selasa, 3 Maret 2026.
Kejadian ini terbilang mendadak dan mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, erupsi terjadi hanya dua belas hari setelah otoritas terkait menurunkan status kebencanaan gunung tersebut.
Sebelumnya, pada Jumat, 20 Februari 2026, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja mengubah status gunung dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).
Keputusan penurunan status ini didasarkan pada evaluasi meredanya tren aktivitas visual dan kegempaan sepanjang bulan Januari hingga Februari 2026. Namun, alam rupanya memiliki perhitungannya sendiri.
Pada pukul 09.42 WITA, gunung ini mendadak meletus dengan menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 1.000 meter di atas puncak. Letusan pembuka ini belum berhenti sampai di situ. Beberapa jam berselang, tepatnya pada pukul 13.55 WITA, terjadi erupsi susulan yang skalanya jauh lebih dahsyat.
Semburan abu vulkanik berwarna kelabu pekat terpantau membumbung tinggi hingga menyentuh elevasi sekitar 1.500 meter di atas kawah utama. Angin kemudian membawa material abu tebal ini condong bergerak ke arah utara, barat laut, dan timur laut.
Ancaman Gas Dangkal dan Lahar
Erupsi terbaru ini memiliki karakteristik yang spesifik. Berdasarkan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan tidak didorong oleh intrusi atau kemunculan magma baru dari perut bumi.
Erupsi ini murni dipicu oleh akumulasi tekanan gas dangkal. Gas tersebut terjebak dalam sistem conduit atau saluran magma yang sudah terbuka akibat rentetan letusan sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, memberikan penjelasannya secara rinci pada Selasa, 3 Maret 2026.
“Peningkatan gempa low frequency pada periode Februari 2026 merupakan indikasi aktivitas fluida yang meningkat. Ini yang kemudian berujung pada pelepasan tekanan dalam bentuk erupsi. Perlu diwaspadai dan dipantau secara ketat terhadap potensi aliran lahar selama musim hujan,” tegasnya mengingatkan publik.
Peringatan dari Badan Geologi terbukti nyata dan cepat. Pada sore harinya pukul 17.00 WITA, hujan deras mengguyur area puncak gunung. Air hujan yang bercampur material endapan vulkanik langsung memicu aliran bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin.
Aliran mematikan ini menerjang cepat ke arah lembah. Sungai-sungai yang berhulu dari puncak gunung, seperti jalur air dari Nobo ke Boru, Nobo ke Nurabelen, dan Hewa ke Nawokote, tak luput dari terjangan lahar hujan pekat.





Tinggalkan Balasan