Fahmi Amir, seorang analis logam mulia eksternal, menjelaskan fenomena perbedaan harga ini dalam wawancara pada pagi hari yang sama. Ia menyebutkan bahwa anomali perbedaan harga antara Antam dan UBS terjadi karena mekanisme inventori. Jeda pembaruan harga di tingkat ritel Pegadaian cenderung lebih lambat merespon volatilitas global dibandingkan dengan harga spot Antam.
Secara teknikal, para analis masih melihat titik cerah bagi pemegang emas jangka panjang. Area Rp3.000.000 per gram diprediksi akan menjadi level dukungan atau support yang cukup kuat. Jika harga mampu bertahan di atas angka tersebut, emas berpotensi untuk kembali memantul atau rebound ke level Rp3.200.000 pada kuartal berikutnya tahun ini.
Dampak jangka pendek dari penurunan ini adalah munculnya aksi jual oleh investor ritel yang merasa panik. Terutama bagi mereka yang melakukan pembelian saat harga berada di puncak atas Rp3,1 juta. Namun, bagi sebagian investor cerdas, penurunan harga ini justru dianggap sebagai peluang untuk menambah koleksi aset mereka sebelum harga kembali merangkak naik.***



Tinggalkan Balasan