Daricih: Bertahan di Jakarta Utara

Daricih lahir di Indramayu dan merantau ke Jakarta pada usia sekitar 16 tahun. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, lalu hampir 20 tahun di konveksi. Ia mengundurkan diri setelah upah tiga bulan tak dibayar. Kini keluarga bertumpu pada pendapatan suaminya sebagai pengemudi ojek online. Mereka tinggal bersama mertua sejak 2007.

Rumah warisan almarhumah ibu kandungnya kerap bocor dan banjir. Ukuran 3×8 meter terasa sesak. “Kalau dulu kerja, tiap hari pulang malam. Sekarang berhenti… tapi alhamdulillah, masih ada rezeki dari bapaknya anak-anak,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Rumah Daicih sebelum dibangun. – Dok. OPSHIDMEDIA

Pertolongan datang saat OPSHID menetapkan rumah Daricih sebagai penerima program pembangunan. “Seneng banget… Tabungan aja gak punya, tapi Alloh kirim orang-orang baik yang bangunin rumah saya,” kata Daricih. Kini, atap baru menahan hujan; rumah berubah jadi tempat tinggal yang layak.

Carning: Mengumpulkan Batu, Datang Bantuan

Di Desa Semanding, Tuban, Ibu Carning hidup dari kerja harian sebagai buruh tani lepas dengan upah sekitar Rp80–85 ribu per hari, tergantung musim. Lima tahun lalu, rumah tangganya berakhir. Ia tinggal sendiri di rumah papan berukuran 8×8 meter dengan genting reyot dan dinding rapuh. Saat hujan, air menetes dari banyak titik dan menggenangi lantai tanah.

Putranya, Feri (22), bekerja di Surabaya untuk membantu melunasi utang keluarga. Di sela ketidakpastian kerja, Ibu Carning menyisihkan penghasilan untuk membeli batu kumbung—satu per satu, disusun rapi di sekitar rumah—dengan harapan suatu saat bisa membangun dinding yang kokoh.

Pada suatu kunjungan, relawan OPSHID mendata kondisi rumahnya. Kabar baik menyusul: rumah Carning dibangun ulang.

“Saya menangis. Kaget, tahu-tahu dibuatkan ruma,” ucapnya, beberapa waktu lalu. Saat peletakan batu pertama pada 20 September 2025, Feri pulang. Senyum ibunya kembali merekah.