Pada pertengahan 1960-an, desakan PKI untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) makin menguat. Sukarno, yang alergi terhadap sisa-sisa unsur Masyumi, nyaris terhasut. Ia memanggil Saifuddin dan menyatakan niatnya membubarkan organisasi mahasiswa Islam tersebut.

“Mereka kan anak-anak Masyumi. Tentu seperti bapaknya, tetap saja reaksioner,” dalih Soekarno.

Saifuddin menolak keras argumen itu. Ia berkilah bahwa anak-anak muda tersebut tidak tahu-menahu dosa masa lalu para senior Masyumi. Perdebatan memanas. Soekarno bersikukuh tindakannya berdasarkan gewetan atau perasaan hatinya. Di titik ini, Saifuddin mengeluarkan ketegasannya.

“Kalau Bapak tetap hendak membubarkan, artinya pertimbangan saya bertentangan dengan gewetan Bapak. Maka tugasku sebagai pembantu Presiden hanya sampai di sini,” ancam Saifuddin tegas.

Mendengar menterinya siap mundur, Soekarno kehabisan kata-kata. Sikapnya melunak. “Oooooh, jangan berkata begitu. Saya tetap memerlukan saudara membantu saya,” ucap Soekarno seraya tersenyum dan mengulurkan tangan. Berkat keteguhan sang ulama, HMI selamat dari jurang pembubaran.

Jejak Sejarah di Balik Nama Gelora Bung Karno

Ketajaman visi Saifuddin tidak hanya berkutat pada urusan keagamaan murni. Ia juga menorehkan jejak dalam sejarah olahraga nasional. Jelang perhelatan Asian Games 1962, pemerintah merampungkan kompleks olahraga raksasa di Senayan.

Suatu pagi di acara minum kopi bersama, Soekarno berdiskusi dengan para menterinya mengenai nama kompleks tersebut. Nama “Pusat Olah Raga Bung Karno” nyaris disepakati. Namun, Saifuddin melontarkan sanggahan. Ia menilai kata ‘pusat’ terdengar statis dan kaku.

“Nama ‘Gelanggang Olah Raga’ lebih cocok dan lebih dinamis,” usul Saifuddin. “Nama Gelanggang Olah Raga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno! Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga.”

Mata Soekarno berbinar mendengar usulan itu. “Waah, itu nama yang hebat. Saya setuju!” sahut sang presiden penuh antusiasme. Nama yang dicetuskan sang kiai itu masih bergema hingga hari ini.

Menjadi Penjaga Rahasia Asmara Sang Proklamator

Sisi paling unik dari relasi kedua tokoh ini adalah ketika Saifuddin harus menghadapi sifat flamboyan Soekarno. Sebagai Menteri Agama, ia terpaksa melayani permintaan pribadi presiden yang berkaitan dengan pernikahan.