Polemik Tawaran Mediasi Indonesia

Di tengah eskalasi ini, Presiden Prabowo Subianto sempat menyatakan kesiapannya untuk bertolak ke Teheran dan memediasi konflik. Namun, langkah ini justru menuai kritik tajam dari dalam negeri.

Dian Wirengjurit menilai Indonesia tidak memiliki daya ungkit diplomasi (leverage) yang cukup untuk menjadi penengah di Timur Tengah. “Enggak usah gaya-gaya aneh. Di ASEAN saja enggak bisa berbuat apa. Mau jadi penengah? Mimpi. Dalam negeri saja bereskan dulu,” sindirnya.

Sementara itu, Dina Sulaeman mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas berdasarkan hukum internasional, alih-alih sekadar meminta kedua pihak menahan diri. Ia menekankan bahwa serangan AS dan Israel ke Iran jelas melanggar Pasal 2 Piagam PBB, sehingga Indonesia wajib mengecam tindakan tersebut karena posisi pelaku dan korban yang tidak setara.

Pelajaran Kemandirian bagi Indonesia

Pada akhirnya, krisis yang menimpa Iran memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Dina menegaskan bahwa ancaman embargo, tekanan, hingga serangan militer hanya bisa dihadapi jika sebuah negara benar-benar mandiri.

“Bertahan itu bukan soal senjata, tapi juga tentang pangan, obat, dan kebutuhan dasar lainnya. Sebuah negara kalau dia mandiri, dia akan kuat, disegani di dunia, dan dapat mengambil peran di dunia internasional,” pungkas Dina.***