Narasi arus utama selama ini menunjuk Kampung Pandean, Surabaya, sebagai tempat sang Proklamator pertama kali menghirup udara dunia. Namun penelusuran dokumen kuno membuka kemungkinan lain: Ploso, di wilayah yang kini kita kenal sebagai Kabupaten Jombang.
Kontradiksi ini, ternyata, bukan soal kesalahan pencatatan. Ia lahir dari dinamika tata wilayah kolonial yang kerap luput dari perhatian.
Pada tahun 1902, Jombang belum berdiri sebagai kabupaten mandiri. Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië—direktori resmi pemerintah kolonial yang mencatat struktur birokrasi Hindia Belanda sejak 1815 hingga 1942—mencatat bahwa Ploso kala itu adalah sebuah distrik yang berada di bawah yurisdiksi Karesidenan Surabaya (Residentie Soerabaja).
Satu dokumen lagi memperkuat ini: surat keputusan mutasi kepegawaian Raden Soekeni tertanggal 28 Desember 1901 secara eksplisit mencantumkan lokasi tugas barunya sebagai “Ploso, Soerabaja.”
Logika Penjajah di Balik Peta
Mengapa Jombang berada di bawah Surabaya? Jawabannya bukan administratif semata—ia adalah logika ekonomi kolonial.
Kesuburan tanah di sepanjang aliran Sungai Brantas menjadikan Jombang sebagai sentra perkebunan tebu yang vital, menopang operasional Pabrik Gula Tjoekir yang telah berdiri sejak 1884. Agar hasil bumi mengalir lancar ke pelabuhan ekspor di ujung timur Jawa, Batavia mengikat wilayah Jombang secara birokratis ke dalam kendali Karesidenan Surabaya.
Akibatnya, masyarakat pada masa itu terbiasa mendaftarkan alamat hukum mereka menggunakan nama karesidenan induk. Kata “Surabaya” dalam dokumen sekolah Soekarno, dengan demikian, bukan merujuk pada kota Surabaya seperti yang kita kenal hari ini—melainkan pada karesidenan yang membawahi Ploso, Jombang, tempat ayahnya mengabdi sebagai guru.
Dua Kebenaran yang Tidak Saling Membatalkan
Sejarah, pada akhirnya, selalu menyajikan dua lapisan sekaligus: yang terjadi, dan cara orang memilih mengingatnya.
Angka 1902 dan status administratif Ploso sebagai bagian dari Karesidenan Surabaya adalah kebenaran empiris yang tak terbantahkan. Tetapi legenda “Putra Sang Fajar” bukan sekadar fiksi—ia adalah cermin dari cara sebuah bangsa membutuhkan mitos untuk merawat semangatnya.




Tinggalkan Balasan