TTBH ke-23 bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah ruang untuk menyambung ukhuwah antarperempuan Shiddiqiyyah, memperkuat syiar Islam yang membumi, dan menjangkau rakyat dari dekat.


KOSONGSATU.ID — Ribuan warga Shiddiqiyyah berjalan berdampingan. Mereka datang dari pelosok Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Malaysia. Satu tujuan: menyambung silaturahmi dan memperkuat syiar.

Acara Silaturahmi dan Tasyakuran Tahun Baru Hijriah (TTBH) ke-23 ini menjadi medium untuk mengokohkan tiga hal: ukhuwah jamaah, penguatan syiar Islam, dan keterlibatan sosial kebangsaan.

Diselenggarakan oleh Jamiat Kausaran Putri Hajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS), kegiatan ini mempertemukan lebih dari 3.000 kader JKPHS dari 112 cabang yang tersebar di Nusantara. Selain JKPHS, hajatan ini juga dihadiri oleh ribuan perwakilan dari berbagai organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah lainnya, seperti Organisasi Shiddiqiyyah (ORSHID), Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID), Dhilal Berkat Rochmat Allloh (DHIBRA), dan Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia.

Tema yang diusung tahun ini: “Di Bumi Merah Putih Merajut Nusantara.”

“Islam itu rahmat bagi semesta. Tapi rahmat itu tak boleh berhenti di mimbar. Harus menyapa rakyat, menyentuh lingkungan,” ujar Ketua Umum JKPHS Pusat, Pudjiarti, dalam keterangan resminya dikutip Ahad (13/7).

Panitia mengatur agar acara tidak hanya jadi forum internal. Warga sekitar dilibatkan, pejabat pemerintah diundang, organisasi keislaman seperti Pattaya dan Jatman hadir. TTBH menjadi ruang terbuka, bukan eksklusif.

Melalui kegiatan ini, Shiddiqiyyah mengajak semua yang hadir untuk melihat agama sebagai jalan sosial. Bahwa spiritualitas tak hanya urusan personal, tapi juga tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Salah satu misi utama acara ini adalah memperluas pemahaman keagamaan yang merangkul dan membumi. Islam yang hidup dalam gotong royong, peduli pada tetangga, dan hadir di ruang publik.

“Syiar bukan soal ceramah. Tapi soal memberi manfaat,” ujar Siti Fasicha, Sekjen JKPHS Pusat.

Kegiatan ini juga menyisipkan aksi sosial. Warga Bengkulu yang membutuhkan mendapat perhatian. Bantuan diberikan. Doa dipanjatkan. Dan rasa syukur menjadi energi untuk berbagi.

Bagi JKPHS, syiar harus melibatkan hati, langkah, dan tindakan. Dan silaturahmi adalah benang yang menjahit semua itu.***