Tradisi Sunda dan Banten menyimpan sains kuno untuk mitigasi bencana. – ILUSTRASI AI GENERATE

Memori Bencana yang Tak Boleh Padam

Masyarakat Banten tidak membatasi mitigasi pada fisik bangunan. Mereka merawat ingatan kolektif letusan dahsyat Krakatau 1883 melalui ritual Haul Kalembak—sebuah tradisi yang sempat surut namun kini dihidupkan kembali sebagai peringatan kewaspadaan terhadap ancaman serupa di masa depan.

Pengetahuan kebencanaan ini juga tersimpan dalam manuskrip kuno seperti Parimbon, Kekedutan, dan Jangjawokan yang kini diteliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN.

Di Kampung Adat Cirendeu, Kota Cimahi, nilai ini hidup dalam filosofi “Kalau alam rusak, manusia ikut rusak.” Inovasi pangan rasi (nasi singkong) yang dikonsumsi sejak 1924 membebaskan warga dari ketergantungan beras—sebuah strategi ketahanan pangan yang melampaui zamannya. Pada 14 Januari 2026, tim GreenFaith Indonesia datang belajar langsung dari komunitas ini. Negara pun resmi memberikan pengakuan hukum melalui SK Kesatuan Masyarakat Hukum Adat pada Desember 2024.

Saat Sains Membenarkan Leluhur

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan bahwa tradisi dan sains modern bukanlah dua kutub yang bertentangan. Keduanya, katanya, saling mengisi ketika peneliti membuka diri untuk duduk bersama komunitas adat.

Webinar BRIN “Mitigasi Bencana: Antara Tradisi dan Sains” (31 Oktober 2025) membuktikan hal ini. Kepala PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti, menekankan bahwa edukasi berbasis tradisi dan sains secara bersamaan mampu membangun ketenangan sekaligus kesiapsiagaan—khususnya menghadapi potensi gempa megathrust di Mentawai dan pesisir Sumatera.

Di lapangan, satu kalimat dalam bahasa daerah terkadang lebih efektif menyelamatkan nyawa daripada sirene dan instruksi teknis. Itulah mengapa BRIN dan BMKG kini bergerak menuju integrasi pengetahuan lokal ke dalam sistem peringatan dini nasional.