Sosok dr. Radjiman sering terlupakan. Padahal, tanpa pertanyaannya di sidang BPUPKI, sejarah lahirnya Pancasila pastilah berbeda.
KOSONGSATU. ID – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Publik umumnya langsung teringat pada pidato monumental Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.
Namun, di balik lahirnya gagasan besar tersebut, sejarah mencatat kehadiran sosok penting yang kerap luput dari lampu sorot publik.
Dia adalah dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat. Sang dokter tidak sekadar hadir, melainkan memimpin jalannya sidang BPUPKI dan secara berani mengajukan pertanyaan fundamental yang memantik lahirnya konsep dasar negara Indonesia.
Jalan Sunyi Sang Dokter Menuju Gelanggang Politik
Lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879, Radjiman tumbuh dalam keluarga priyayi yang menjunjung tinggi pendidikan. Dukungan pamannya, dr. Wahidin Soedirohoesodo, mengantarkan Radjiman menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) Batavia.
Kecerdasannya membawa ia meraih gelar dokter di usia muda, bahkan berkesempatan memperdalam ilmu hingga ke Belanda, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat.
Profesi medis nyatanya tidak mengurung langkah Radjiman. Ia melampaui tugasnya sebagai dokter Keraton Surakarta Hadiningrat dan terjun ke gelanggang pergerakan nasional. Radjiman memimpin organisasi Boedi Oetomo pada periode 1914–1915 dan mengusulkan pembentukan milisi rakyat demi membela hak-hak bumiputra.
Sejarawan George Donald Larson dalam Prelude to Revolution memberikan kesaksian tajam mengenai kiprah sang tokoh. Larson mencatat bahwa Radjiman mencuat bukan hanya sebagai seorang intelektual pergerakan, tetapi juga hadir sebagai jembatan kokoh yang menghubungkan dunia tradisional keraton dengan nalar politik modern.
Radjiman menempuh jalan sunyi diplomasi yang secara strategis membuka ruang menuju kemerdekaan.
Pertanyaan Sederhana yang Melahirkan Dasar Negara
Puncak pengabdian Radjiman bagi Republik terjadi ketika ia memegang amanah sebagai Ketua BPUPKI pada usia 66 tahun. Di tengah bayang-bayang kekuasaan militer Jepang, ia mengendalikan arah diskusi ideologis para pendiri bangsa.
Dalam sidang pertama BPUPKI yang berlangsung pada 29 Mei 1945, Radjiman melontarkan satu pertanyaan tegas yang mengubah arah sejarah. Ia berdiri di hadapan para peserta sidang dan bertanya:
”Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?”
Pertanyaan tersebut langsung menjadi jangkar perdebatan. Berbagai tokoh, termasuk Mohammad Yamin dan Soepomo, merespons dengan gagasan-gagasan kebangsaan mereka. Puncaknya, pada 1 Juni 1945, Soekarno menjawab pertanyaan Radjiman tersebut dengan merumuskan lima prinsip dasar yang kita kenal sebagai Pancasila.
pertanyaan pemantik dari Radjiman, proses kristalisasi ideologi bangsa ini mungkin tidak akan berjalan seperti yang kita warisi hari ini.
Menjemput Kemerdekaan hingga ke Dalat
Peran sang dokter tidak berhenti di meja sidang. Memasuki Agustus 1945, posisi Jepang dalam Perang Asia Timur Raya semakin hancur, terlebih setelah Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Di tengah kekosongan kekuasaan tersebut, Radjiman bersama Soekarno dan Mohammad Hatta berani mengambil risiko. Pada 9 Agustus 1945, ketiga tokoh bangsa ini terbang menggunakan pesawat pengebom menuju Dalat, Vietnam, untuk menemui Panglima Tentara Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi.
krusial ini memastikan sikap Jepang yang mulai terdesak, sekaligus mematangkan langkah bangsa Indonesia untuk segera merumuskan Proklamasi tanpa harus menunggu komando penjajah.
Penghormatan Terakhir untuk Sang Pahlawan
Setelah Indonesia merdeka, Radjiman tetap mengawal jalannya republik. Ia aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Dewan Pertimbangan Agung (DPA), hingga memimpin sidang pertama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada masa kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan.
Dedikasi Radjiman terhenti ketika ia mengembuskan napas terakhir pada 20 September 1952. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa, tak terkecuali bagi Presiden Soekarno. Bung Karno secara khusus mengubah seluruh agenda kerjanya untuk melayat ke rumah duka di Ngawi.
Sang Proklamator melepas jenazah dr. Radjiman dengan berat hati, memberikan kesaksian dan penghormatan tertinggi atas kecakapan serta kewibawaan Radjiman yang sukses menakhodai kapal Indonesia tepat sebelum kelahirannya.
Kini, nama dr. Radjiman Wedyodiningrat abadi sebagai Pahlawan Nasional. Jejaknya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan merelakan banyak sosok bekerja di balik layar, menempuh jalan sunyi demi melahirkan fondasi negara yang berdaulat.***
Daftar Pustaka
- Larson, George Donald. (1987). Prelude to Revolution: Palaces and Politics in Surakarta, 1912–1942. Foris Publications.
- Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia (1942-1998). Jakarta: Balai Pustaka.
- Soeharto. (1984). Saksi Sejarah. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.






Tinggalkan Balasan