​Dalam sidang pertama BPUPKI yang berlangsung pada 29 Mei 1945, Radjiman melontarkan satu pertanyaan tegas yang mengubah arah sejarah. Ia berdiri di hadapan para peserta sidang dan bertanya:

​”Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?”

​Pertanyaan tersebut langsung menjadi jangkar perdebatan. Berbagai tokoh, termasuk Mohammad Yamin dan Soepomo, merespons dengan gagasan-gagasan kebangsaan mereka. Puncaknya, pada 1 Juni 1945, Soekarno menjawab pertanyaan Radjiman tersebut dengan merumuskan lima prinsip dasar yang kita kenal sebagai Pancasila.

pertanyaan pemantik dari Radjiman, proses kristalisasi ideologi bangsa ini mungkin tidak akan berjalan seperti yang kita warisi hari ini.

​Menjemput Kemerdekaan hingga ke Dalat

​Peran sang dokter tidak berhenti di meja sidang. Memasuki Agustus 1945, posisi Jepang dalam Perang Asia Timur Raya semakin hancur, terlebih setelah Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

​Di tengah kekosongan kekuasaan tersebut, Radjiman bersama Soekarno dan Mohammad Hatta berani mengambil risiko. Pada 9 Agustus 1945, ketiga tokoh bangsa ini terbang menggunakan pesawat pengebom menuju Dalat, Vietnam, untuk menemui Panglima Tentara Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi.

krusial ini memastikan sikap Jepang yang mulai terdesak, sekaligus mematangkan langkah bangsa Indonesia untuk segera merumuskan Proklamasi tanpa harus menunggu komando penjajah.

​Penghormatan Terakhir untuk Sang Pahlawan

​Setelah Indonesia merdeka, Radjiman tetap mengawal jalannya republik. Ia aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Dewan Pertimbangan Agung (DPA), hingga memimpin sidang pertama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada masa kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan.

​Dedikasi Radjiman terhenti ketika ia mengembuskan napas terakhir pada 20 September 1952. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa, tak terkecuali bagi Presiden Soekarno. Bung Karno secara khusus mengubah seluruh agenda kerjanya untuk melayat ke rumah duka di Ngawi.