Pakar UGM mengungkap bahwa weton bukan klenik, melainkan ‘ilmu titen‘: hasil observasi empiris masyarakat Jawa terhadap pola alam dan nasib.
KOSONGSATU. ID – Pernyataan ini sekaligus mendobrak stigma di era modern yang kerap mengerdilkan weton sekadar sebagai praktik klenik atau tahayul warisan masa lalu.
Lewat kacamata akademis, tradisi perhitungan hari lahir ini justru terbukti memiliki struktur logika dan metodologi observasi yang jelas.
Namun, sebelum menyelami lebih jauh bagaimana penalaran empiris ini beroperasi, kita perlu melihat kembali fondasi dasar dan posisi sentral weton dalam kultur masyarakat.
Membongkar Akar Weton dalam Kehidupan Masyarakat
Bagi masyarakat berkebudayaan Jawa, istilah weton atau hari kelahiran jelas bukan hal asing. Sistem penanggalan ini membagi waktu ke dalam dua siklus utama. Pertama, siklus tujuh hari dalam sepekan mulai dari Senin hingga Minggu. Kedua, siklus lima hari pasaran yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Masyarakat Jawa secara turun-temurun menggabungkan kedua siklus ini sebagai kompas kehidupan. Mereka menggunakan perhitungan weton untuk berbagai keputusan krusial—mulai dari memilih jodoh, menentukan waktu terbaik mendirikan rumah, menjadwalkan masa tanam pertanian, hingga mencari hari baik untuk memulai bisnis baru.
Namun, mari kita ajukan pertanyaan kritis: mengapa masyarakat Jawa menyandarkan keputusan hidup yang rasional pada hitungan hari dan pasaran? Bagaimana logika di balik hari kelahiran yang menentukan kecocokan jodoh atau kesuksesan usaha?
Ilmu Titen: Bukti Observasi Empiris
Banyak pihak kerap melabeli praktik ini sebagai tahayul atau mistis. Padahal, Pakar Filsafat Jawa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Iva Ariani, menepis anggapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa fenomena weton sebenarnya punya akar rasionalitas yang setara dengan sistem perhitungan masyarakat di belahan dunia lain.
Dr. Iva mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa membangun perhitungan ini berlandaskan sebuah konsep bernama “ilmu titen”. Secara sederhana, ilmu titen adalah metode observasi berbasis pengulangan. Masyarakat kuno terus-menerus membaca dan mengamati pola kejadian alam di sekitarnya.




Tinggalkan Balasan