Sistem ekstrusi percontohan yang dikembangkan Fadhyl telah mencapai kapasitas produksi 250 kilogram per jam. Capaian ini membuka peluang pengembangan produksi massal melalui kolaborasi publik dan swasta.
Uji Sensori dan Pendekatan STE(A)M
Hasil analisis sensori menunjukkan beras analog uwi memiliki warna krem muda, aroma ringan menyerupai jagung, serta tekstur lembut. Skor penerimaan panelis mencapai 3,6 dari 5 untuk tekstur dan 3,5 dari 5 untuk rasa.
Inovasi ini dikembangkan dengan pendekatan lintas disiplin STE(A)M. Aspek ilmu pengetahuan digunakan untuk kajian biokimia pati uwi, teknologi dan rekayasa diterapkan dalam desain sistem ekstrusi, sementara analisis matematika digunakan untuk formulasi dan uji statistik.
Pendekatan seni turut berperan dalam menjaga tampilan dan pengalaman sensori agar tetap menyerupai nasi, sekaligus mengangkat identitas pangan lokal.
Tidak Beraroma Langu dan Kaya Protein
Riset lain dilakukan Rizky Susetyowati dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknik dan Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda Bogor pada 2021. Penelitian ini menguji beras analog berbasis uwi ungu dengan penambahan tepung kacang hijau.
Menggunakan RAL satu faktor dengan tiga perbandingan komposisi, hasil penelitian menunjukkan formulasi terbaik pada rasio uwi ungu 60 persen dan kacang hijau 40 persen. Produk terpilih memiliki kadar protein 17,265 persen dan kadar serat kasar 12,090 persen.
Uji sensori menunjukkan nasi beras analog memiliki aroma tidak langu, rasa sedikit manis dan gurih, serta tingkat kesukaan tertinggi pada parameter rasa, aroma, dan keseluruhan.
Uwi Putih dan Ungu Dinilai Paling Potensial
Penelitian oleh Wuryantoro, Ratna Mustika W, dan Indah Rekyani dari Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun yang dipublikasikan di Gontor AGROTECH Science Journal Vol. 6 No. 3 (Desember 2020) menegaskan potensi uwi sebagai pangan alternatif non-beras.
Uji organoleptik menunjukkan uwi berwarna putih paling disukai, sementara uwi ungu memiliki tingkat penerimaan bervariasi. Uwi berwarna kuning dinilai kurang layak untuk konsumsi segar.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa uwi putih dan ungu sangat potensial dikembangkan sebagai beras fungsional. Jenis uwi lain dinilai lebih sesuai untuk riset lanjutan di bidang bioenergi atau farmasi.
Pengembangan beras analog uwi tidak hanya berbasis ilmiah, tetapi juga membawa semangat kemandirian pangan nasional. Diversifikasi pangan dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada beras sebagai satu-satunya sumber karbohidrat utama.***




Tinggalkan Balasan