Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayahanda Bung Karno, ternyata memiliki sisi religius yang jarang terungkap. Di bawah bimbingan trah Kiai Syuhada di Ploso, Jombang, ia menanamkan fondasi batin bagi Sang Proklamator.


KOSONGSATU.ID – Buku-buku sejarah arus utama sering kali melukiskan Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayahanda Soekarno, sebagai sosok guru yang kental dengan pemikiran Teosofi dan Kejawen. Namun, narasi dari utara Sungai Brantas menyingkap sisi lain yang jauh lebih religius. 

Di balik citra kejawennya, Raden Soekeni menjalin ikatan batin yang mendalam dengan trah Kiai Syuhada, sebuah hubungan “santri-mursyid” yang menjadi rahim spiritual pertama bagi Soekarno kecil di tanah Ploso, Jombang.

Diplomasi Spiritual Atas Restu Tjokroaminoto

Kedatangan Raden Soekeni di Ploso pada Desember 1901 sebagai mantri guru sekolah Ongko Loro tidak terjadi dalam ruang hampa. Pemimpin Sarekat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto, memberikan rekomendasi khusus agar Soekeni merapat kepada sosok kharismatik setempat, KH. Abdul Mu’thi, putra dari Kiai Ahmad Syuhada.

Persahabatan ini bukan sekadar basa-basi sosial. KH. Abdul Mu’thi adalah pengasuh Pesantren Kedung Turi sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI) Ploso yang gigih membela ekonomi petani tembakau. Kesamaan visi kerakyatan dan arahan dari Tjokroaminoto inilah yang memantapkan langkah Soekeni untuk menitipkan fondasi batin keluarganya pada bimbingan keluarga besar Kiai Syuhada.

Soekeni: Sang Murid Tarekat di Kedung Macan

Ketertarikan Soekeni pada Islam merasuk hingga ke ranah tasawuf. Selama menetap di Ploso (1901–1907), Soekeni tidak ragu untuk berbaiat menjadi murid Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah di bawah bimbingan Kiai Muntoho di Kedung Macan, yang masih merupakan lingkaran keluarga besar Kiai Syuhada.

Kiai Muchtar Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, mengonfirmasi kedekatan ini berdasarkan penuturan ayahnya:

“Aku iku dikandani abah. Bapake Pak Karno, Raden Soekeni, iku gelek nang nggone abah, untuk memperdalam ajaran agama Islam. Lha waktu nang nggone kene, putrane jek situk, wedok. Lha Bung Karno durung ono (belum lahir),” tutur Kiai Muchtar.

Kedekatan ini pun menjalar hingga ke urusan domestik. Ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, bersahabat karib dengan Nyai Nasikhah, istri Kiai Abdul Mu’thi. Melalui jalinan emosional yang kuat inilah, Kusno (Soekarno) kecil akhirnya mulai mereguk ajaran Islam sejak dini.

Presiden Pertama RI Soekarno dan ayahnya, R. Soekeni. Menurut data di ANRI yang ditemukan sejarawan UI Yon Machmudi, Soekarno tercatat lahir tahun 1902. — FOTO: Dok. Arsip Nasional

Langgar Panggung: Kawah Candradimuka Si Kecil Kusno

Di sebuah langgar panggung kayu yang dibangun oleh Kiai Syuhada, Soekarno kecil mulai mengeja aksara Al-Quran dan mempelajari fasolatan. Raden Mas Kuswartono dari Situs Persada Soekarno Kediri menegaskan bahwa tempat mengaji Bung Karno tersebut berada di kawasan Pondok Kedungturi (sekarang Pondok Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah).

Bukti sejarah ini diperkuat oleh data formal:

  • Buku Induk Mahasiswa THS Bandung: Mencatat bahwa Soekarno memulai sekolah dasarnya di Ploso, Jombang.
  • Tradisi Lisan: Cerita turun-temurun keluarga besar pesantren mengenai keberadaan langgar panggung tempat Kusno mengaji.

Napas Tasawuf di Podium Revolusi

Masa-masa emas pertumbuhan batin Soekarno terjadi di tengah atmosfer pesantren yang kental. Hubungan harmonis antara Soekeni dan Kiai Syuhada membuktikan bahwa karakter inklusif Soekarno berakar dari keterbukaan sang ayah.

Ploso bukan sekadar tempat tinggal sementara bagi keluarga Soekeni, melainkan kawah candradimuka di mana jiwa Soekarno pertama kali ditempa oleh nilai-nilai luhur tasawuf. Warisan dari Langgar Kedungturi inilah yang di kemudian hari muncul kembali dalam retorika besar sang Proklamator tentang “Ketuhanan yang Berkebudayaan.”***


Daftar Pustaka

  • Adams, Cindy. (1965). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. (1965).
  • Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I: Surat-surat Islam dari Endeh. Jakarta: Panitia Penerbit DBR.
  • Wawancara Raden Mas Kuswartono, Pengelola Situs Persada Soekarno Kediri, 22 Februari 2026.
  • Catatan Sejarah Arif Yulianto, Pemerhati Sejarah Kabupaten Jombang.
  • Buku Induk Mahasiswa Technische Hogeschool (THS) Bandung, Koleksi Arsip Nasional.