Yang keempat, Alastu Caffetin. Namanya membawa gema pertanyaan “Alastu bi-Rabbikum”—Bukankah Aku Tuhanmu? Dalam keyakinan keagamaan, pertanyaan itu menyentuh perjanjian primordial manusia. Ia bukan hiasan nama yang boleh dipakai sembarangan. Ia seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap permulaan baru tidak hanya berurusan dengan keinginan kita, tetapi juga dengan arah pengabdian kita.
Yang kelima, Alastu Blokosutho. Blokosutho berarti terus terang, apa adanya. Kata ini sangat Jawa, tetapi isinya universal. Dunia sekarang terlalu penuh kemasan: barang kecil dibesarkan oleh slogan, kekurangan disembunyikan oleh pencitraan, dan ketidakpastian dipoles menjadi kepastian. Blokosutho mengajak kembali kepada kejujuran yang tidak banyak bergaya: yang ada dikatakan ada, yang belum diketahui diakui belum diketahui.
Yang Dicari Bukan Asapnya, Melainkan Kesadarannya
Lima wajah itu pada akhirnya kembali kepada satu perkara: manusia sedang mencari cara untuk berhenti sebentar. Ada yang membutuhkan rasa akrab. Ada yang membutuhkan simbol kebangsaan. Ada yang tertarik pada doa. Ada yang merasa dekat dengan keterusterangan. Jalan masuknya berbeda, tetapi ruang yang dituju serupa: sebuah jeda untuk mengingat kembali siapa dirinya dan ke mana ia hendak berjalan.
Karena itu, benda tidak semestinya diperlakukan sebagai tujuan akhir. Ia adalah perantara. Seperti sajadah bukan tujuan shalat, cangkir bukan tujuan menikmati kopi, dan dupa bukan tujuan kekhusyukan. Ketika perantara dipuja berlebihan, manusia kehilangan arah. Ketika perantara dicurigai tanpa diperiksa, manusia kehilangan kesempatan memahami.
Tata cara penggunaan yang disusun oleh peraciknya dapat dipandang sebagai upaya menjaga agar pengalaman tidak dilakukan serampangan. Namun panduan apa pun tetap memerlukan tanggung jawab, kesadaran kondisi pribadi, dan kepatuhan pada ketentuan kesehatan serta hukum yang berlaku. Terutama untuk sesuatu yang dihisap, kehati-hatian bukan musuh tradisi. Kehati-hatian justru bagian dari penghormatan kepada kehidupan.



Tinggalkan Balasan