Dupa telah lama hidup di Nusantara. Ia hadir di keraton, padepokan, ruang doa, selamatan, malam Jumat, dan berbagai peristiwa ketika manusia merasa perlu membedakan waktu biasa dari waktu yang hendak dimaknai. Asapnya bukan sekadar asap; ia menjadi penanda bahwa orang sedang berpindah dari riuh menuju khusyuk, dari kegiatan lahir menuju perhatian batin.
Gaharu dikaitkan dengan keluhuran. Cendana diasosiasikan dengan keteduhan. Kemenyan hadir dalam banyak ingatan budaya sebagai penghubung suasana yang kasatmata dengan pengalaman yang tidak selalu mudah diucapkan. Kenanga, kantil, dan cempaka membawa kelembutan aromanya masing-masing. Apakah seluruh tafsir itu wajib dipercaya secara harfiah? Tentu tidak. Tetapi kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa simbol, aroma, dan ingatan budaya tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap manusia.
Sebab manusia bukan mesin hitung. Ia hidup dari fakta, tetapi juga dari makna. Ia membutuhkan makanan, tetapi kadang memilih piring tertentu karena mengingat ibunya. Ia membutuhkan tempat tinggal, tetapi menyebut satu bangunan sebagai rumah karena di sanalah air matanya pernah diterima. Demikian pula aroma: secara fisik ia memasuki indera penciuman; secara batin ia dapat mengetuk kenangan, suasana, identitas, bahkan doa.
Menghormati Tradisi Tanpa Takut Memeriksanya
Tradisi bertahan bukan semata-mata karena orang dahulu lebih mudah percaya. Sering kali ia bertahan karena ada pengalaman yang dianggap berguna, lalu diwariskan. Masalahnya, warisan dapat menjadi kebijaksanaan, dapat pula menjadi kebiasaan yang tidak lagi diperiksa. Di sinilah kita membutuhkan dua sikap sekaligus: hormat kepada pengalaman masa lalu dan keberanian mengajukan pertanyaan masa kini.
Jangan sampai modernitas membuat kita sombong kepada leluhur. Namun jangan pula penghormatan kepada leluhur membuat kita takut kepada penjelasan. Yang baik tidak akan rusak karena diperiksa. Yang benar tidak akan kehilangan kemuliaannya hanya karena prosesnya diterangkan. Bahkan mungkin, penjelasan yang jujur justru menyelamatkan tradisi dari klaim-klaim berlebihan yang menumpang di atasnya.
Ketika Bentuk Baru Datang Membawa Pertanyaan Lama
Dari sini kita bisa memandang bentuk baru tanpa segera menuduhnya sebagai pengkhianatan terhadap bentuk lama. Dupa pernah berupa getah, serpihan kayu, bubuk, racikan tangan, lalu menjadi batang pabrikan dan minyak aromatik. Bentuknya berubah, sementara kebutuhan manusia yang dilayaninya tetap: menciptakan penanda, ritme, dan jeda.



Tinggalkan Balasan