Di sekelilingnya lahir istilah Metafakta. Istilah ini dapat dibaca sebagai ikhtiar untuk tidak terjatuh ke dua jurang: klenik yang menuntut kepatuhan buta dan klaim medis yang melampaui bukti. “Meta” tidak harus berarti gaib. Ia dapat berarti lapisan makna yang menyertai fakta: bahan, proses, pengalaman, budaya, dan cara manusia menafsirkannya. Fakta tidak dihapus oleh makna. Makna pun tidak perlu menyamar menjadi fakta ilmiah.
Maka kejujurannya harus sederhana: ini bahannya, ini prosesnya, ini maksud budayanya, ini pengalaman yang dilaporkan orang, dan ini pula batas yang tidak boleh dilampaui. Orang dipersilakan menelusuri, bukan dipaksa mempercayai. Sebab sesuatu yang baik untuk diperkenalkan seharusnya juga cukup kuat untuk dipertanyakan.
Lima Wajah Perisai Metafakta
Dari satu gagasan itu lahir lima wajah. Bukan lima kebenaran yang saling berebut, melainkan lima pintu bagi manusia yang latar, selera, dan perjalanan batinnya tidak sama. Bukankah bahkan ketika menuju masjid yang sama, orang datang dari gang yang berbeda-beda?
Yang pertama, Syifaa. Namanya mengambil gema kata syifa’, kesembuhan. Nama itu perlu diletakkan sebagai doa dan niat, bukan sebagai jaminan medis. Ia mengingatkan bahwa manusia selalu berharap memperoleh keseimbangan, baik pada tubuh maupun batinnya. Cara menikmatinya yang dapat diseduh, dipotong, dan disaring seperti racikan rempah juga mempertemukan kebiasaan lama dengan kebutuhan baru.
Yang kedua, RPE—Raos Paling Eco. Ia membawa filsafat yang justru sering diabaikan dunia modern: yang bermakna tidak selalu harus mahal, dan yang terjangkau tidak otomatis kehilangan martabat. Di belakang satu produk terdapat petani, peracik, pekerja, mitra, warung, dan keluarga-keluarga yang ekonominya ikut bergerak. Rasa pada akhirnya bukan hanya urusan lidah; ia juga menyentuh rantai kehidupan.
Yang ketiga, Merah Putih. Mula-mula lahir bersama momentum kemerdekaan, tetapi kemudian bertahan karena kemerdekaan memang tidak pantas dirayakan hanya pada bulan Agustus. Merah Putih adalah warna negara, tetapi juga pertanyaan: setelah memiliki bendera, apakah kita sungguh-sungguh memiliki keberanian, kemandirian, dan rasa tanggung jawab terhadap tanah air? Identitas tidak selesai pada simbol. Simbol justru menagih perilaku.



Tinggalkan Balasan