Gorengan tetap primadona buka puasa, namun Wedang Salam hadir redam risiko kolesterol.
KOSONGSATU.ID–Bulan suci Ramadan tak pernah lepas dari tradisi berburu takjil di setiap sudut jalan. Dari sekian banyak pilihan kuliner, gorengan selalu menempati takhta tertinggi dalam daftar menu berbuka puasa masyarakat Indonesia. Sensasi renyah dan rasa gurih membuat penganan ini sangat sulit ditolak setelah seharian penuh tubuh menahan lapar dan dahaga.
Data dari survei lembaga Populix pada 2024 secara tegas mencatat, sebanyak 74 persen masyarakat Indonesia menjadikan gorengan sebagai menu wajib saat berbuka.
Di berbagai kota besar seperti Bandung, tingkat konsumsi gorengan bahkan menembus angka 3.113 potong per minggu untuk setiap keluarga. Angka fantastis ini mencerminkan betapa kuatnya hegemoni gorengan dalam budaya kuliner Nusantara yang mengalahkan jenis makanan lain.
Namun, di balik kelezatannya, ancaman kesehatan serius terus mengintai tanpa disadari. Konsumsi makanan berminyak secara masif dan terus-menerus selama sebulan penuh sangat berisiko memicu lonjakan kadar kolesterol dan gula darah. Apalagi jika hidangan ini rutin disandingkan dengan aneka minuman dingin yang sarat dengan pemanis buatan.
Pakar kesehatan sering kali menyebutkan bahwa lonjakan kasus dislipidemia dan hipertensi pasca-Ramadan selalu bermula dari kebiasaan makan ini. Oleh karena itu, edukasi mengenai perlunya minuman penyeimbang terus digaungkan oleh banyak pihak.
Keresahan medis inilah yang perlahan memicu pergeseran tren kuliner berbuka puasa di kalangan masyarakat urban. Masyarakat mulai mencari solusi penyeimbang agar tetap bisa menikmati sepotong gorengan tanpa harus mengorbankan masa depan kesehatannya. Di tengah pergeseran preferensi gaya hidup tersebut, racikan herbal modern mulai mengambil alih perhatian dan menjadi tren baru yang masif dibicarakan.




Tinggalkan Balasan